Kediri, jurnalmataraman.com – Bosan dengan suasana rumah makan atau restoran yang itu-itu saja? Menikmati kuliner di pinggiran Sungai Brantas bisa menjadi alternatif jujukan yang patut dicoba. Di Desa/Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, terdapat sebuah warung sederhana di bawah kerindangan pohon bambu yang menawarkan sensasi makan ikan wader nan menggugah selera.
Warung milik Sugiyarti tersebut nyaris tak pernah sepi pengunjung. Meski fasilitasnya sangat sederhana dengan tempat duduk lincak beralaskan bambu, puluhan pelanggan silih berganti berdatangan setiap harinya. Mereka tak hanya datang dari wilayah Kediri, tetapi juga merambah dari daerah tetangga seperti Tulungagung, Blitar, Nganjuk, hingga Malang.
Para pelanggan mengaku sangat terkesan dengan cita rasa olahan di warung ini. Chintya Vindi, salah seorang pembeli asal Malang, menyebutkan bahwa ukuran ikan wader yang disajikan relatif lebih besar sehingga bumbunya meresap sempurna. Ditambah lagi, semilir angin dan rimbunnya pepohonan di tepi sungai membuat sensasi bersantap menjadi semakin nikmat dan menenangkan.
Sugiyarti, sang pemilik warung, menuturkan bahwa usahanya ini telah dirintis sejak 15 tahun silam. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hingga 15 kilogram ikan wader segar. Pasokan ikan tersebut ia dapatkan langsung dari tangkapan para pemancing dan warga sekitar bantaran Sungai Brantas.
“Rata-rata sehari bisa laku terjual sekitar 160 sampai 200 porsi,” ungkap Sugiyarti.
Urusan harga, pembeli tak perlu khawatir kantong jebol. Kuliner antimainstream ini dibanderol dengan harga yang sangat merakyat. Cukup merogoh kocek Rp 8.000, pengunjung sudah bisa menikmati seporsi nasi ikan wader hangat lengkap dengan sambal tomat, lalapan, dan kerupuk. Jika ingin tambahan lauk, sepiring ikan wader dibanderol Rp 15.000. Tersedia pula nasi putih seharga Rp 3.000 dan aneka botok olahan ikan yang dijual kisaran Rp 5.000-an.
(Editor: Afif / Sea)



