TULUNGAGUNG, jurnalmataraman.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, geliat ekonomi kreatif di Kabupaten Tulungagung menunjukkan tren positif. Salah satunya dirasakan oleh para perajin blangkon lokal yang kini kebanjiran pesanan. Peningkatan permintaan yang signifikan ini memaksa para perajin mempercepat tempo produksi demi memenuhi pesanan yang datang dari berbagai daerah.
Kesibukan luar biasa terlihat di rumah produksi milik Sutopo, di Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Sejak awal Ramadan, aktivitas di sana meningkat drastis. Tumpukan kain batik dengan beragam motif, pola-pola setengah jadi, hingga suara mesin jahit menjadi pemandangan harian yang menghiasi rumah produksi tersebut. Sutopo mengaku, pada hari biasa dirinya hanya memproduksi sekitar dua hingga tiga blangkon per hari. Namun, memasuki momentum Ramadan dan menjelang Lebaran, kapasitas produksinya melonjak menjadi enam hingga sepuluh blangkon setiap harinya.
“Permintaan meningkat tajam, baik melalui pesanan online maupun pembeli yang datang langsung ke lokasi. Kami harus bekerja ekstra agar semua pesanan bisa terkirim tepat waktu sebelum Lebaran,” ujar Sutopo di sela aktivitasnya menjahit blangkon secara manual.
Kreativitas menjadi kunci Sutopo bertahan. Ia memproduksi beragam jenis blangkon, mulai dari gaya Jawa Timuran, Solo, hingga Yogyakarta. Namun, untuk tahun ini, ada fenomena menarik di mana model Sente Rewe menjadi tren dan sangat diminati oleh kalangan anak muda. Selain model Sente Rewe, blangkon gaya Yogyakarta tetap menjadi favorit pelanggan lama. Menariknya, pasar blangkon karya Sutopo ini telah menembus skala nasional. Pesanan tidak hanya datang dari lingkup lokal Tulungagung, tetapi juga merambah ke kota-kota besar seperti Yogyakarta, Bekasi, hingga Bandung Barat.
Bagi para pembeli, blangkon bukan sekadar penutup kepala. Blangkon kini kembali diminati sebagai pelengkap busana adat saat bersilaturahmi di hari raya, sekaligus menjadi simbol identitas dan upaya pelestarian budaya Jawa di tengah gempuran tren modern.
Sutopo berharap, momentum Lebaran ini tidak hanya membawa berkah secara ekonomi, tetapi juga semakin meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya nusantara.
Editor : Trias M.A



