Kediri, jurnalmataraman.com – Ratusan santri dan relawan kebencanaan berkumpul di Gedung BPKAD Tegowangi lantai III untuk mengikuti pelatihan logistik serta teknik evakuasi bencana. Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Kabupaten Kediri ini digelar sebagai langkah tanggap darurat sekaligus menyongsong Peringatan Hari Santri pada 22 Oktober.
Pemerintah Kabupaten Kediri terus memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana daerah dengan melibatkan elemen masyarakat berbasis komunitas keagamaan. Langkah ini krusial mengingat letak geografis Kediri yang dikelilingi berbagai potensi bencana alam.
Acara bertajuk “Peningkatan Kapasitas Bidang Logistik dan Peralatan Penanggulangan Bencana” tersebut diikuti sebanyak 110 peserta. Rinciannya terdiri dari lebih dari 80 santri serta 30 relawan kebencanaan.
Pelatihan ini bertujuan membangun kolaborasi erat antara relawan lapangan yang berpengalaman dengan para santri sebagai agent of change di lingkungan pondok pesantren.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Kediri, wilayah Kediri memiliki karakteristik geografis yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Keberadaan Gunung Kelud di sisi timur, Gunung Wilis di bagian barat, serta aliran Sungai Brantas beserta anak sungainya di tengah menjadikan daerah ini rawan bencana erupsi, tanah longsor, hingga banjir saat musim hujan.
Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB Bambang Surya Putra menekankan pentingnya keberlanjutan dari program pelatihan tersebut. Pihaknya mendorong agar edukasi kebencanaan tidak berhenti pada sosialisasi dasar semata.
“Edukasi kebencanaan ini perlu dilanjutkan dengan pembekalan teknis serta pembentukan kader Pondok Pesantren Aman Bencana,” ujar Bambang Surya Putra.
Sinergi antara pemerintah, relawan, dan pondok pesantren ini diharapkan mampu memperkuat benteng pertahanan berbasis komunitas. Dengan demikian, risiko serta dampak bencana di Kabupaten Kediri dapat diminimalkan di masa mendatang.(Muhammad Zainurofi)
(Editor: Atha / Trias)



