Jurnalmataraman.com
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
Jurnalmataraman.com
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Menyusuri Masjid Baiturrahman Kediri: Warisan Senopati Diponegoro, Sarat Filosofi ‘Lillah’

by M. Zainurofi
10 Maret 2026 | 12:12
Reading Time: 2 mins read
0
Menyusuri Masjid Baiturrahman Kediri: Warisan Senopati Diponegoro, Sarat Filosofi ‘Lillah’

Kediri, jurnalmataraman.com – Di tengah modernitas bangunan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu syiar Islam di wilayah timur Kediri. Adalah Masjid Baiturrahman, rumah ibadah di Desa Tambakrejo yang diyakini telah berusia hampir dua abad. Tak sekadar tempat salat, masjid ini menyimpan jejak pelarian sang pejuang dari kejaran kolonial Belanda.

Masjid Baiturrahman dibangun sekitar tahun 1830-an. Sosok di balik berdirinya bangunan klasik ini adalah KiaiAbdurrahman, yang dikenal sebagai salah satu senopati atau panglima perang Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada 1830, para pengikutnya menyebar ke berbagai wilayah, termasuk ke pedalaman Kediri untuk melanjutkan dakwah sekaligus bersembunyi.

Memasuki area masjid, pengunjung akan langsung merasakan atmosfer spiritual yang kental. Keistimewaan yang paling menonjol adalah keberadaan ornamen lafaz “Lillah” (Karena Allah) yang menghiasi hampir setiap jengkal sudut bangunan.

Lafaz berbentuk lingkaran tersebut terpahat indah di dinding, pintu, mimbar, hingga tiang-tiang penyangga. Bahkan, jika menengok ke atas, kayu-kayu usuk yang menopang atap pun tak luput dari ukiran lafaz suci tersebut.

ZainiThoyyib, pengasuh Masjid Baiturrahman sekaligus generasi keempat dari Kiai Abdurrahman, menjelaskan bahwa ornamen tersebut bukanlah hiasan semata.

“Lafaz ‘Lillah’ ini merupakan simbol ajaran Tarekat Naqsyabandiyah yang ditekankan oleh kakek buyut saya. Pesannya mendalam, yakni tentang keikhlasan total dalam beribadah dan menjalani hidup hanya karena Allah,” ungkap Zaini.

Meski telah melewati perjalanan waktu selama 194 tahun, struktur utama Masjid Baiturrahman masih dipertahankan keasliannya. Kayu-kayu penyangga yang digunakan sejak zaman perjuangan masih berdiri tegak, membuktikan ketangguhan material bangunan masa lalu.

Renovasi yang dilakukan pengelola terbilang sangat minim demi menjaga nilai sejarahnya. Perubahan signifikan hanya terlihat pada penggantian atap genteng menjadi asbes serta pemasangan ubin pada tahun 1980-an untuk kenyamanan jemaah.

Kini, Masjid Baiturrahman bukan hanya menjadi kebanggaan warga Desa Tambakrejo, melainkan juga destinasi wisata religi bagi mereka yang ingin menapak tilas perjuangan laskar Diponegoro di tanah Jawa.

(Editor : Trias M.A)

Bagikan di Media Sosial
Tags: headlineKedirikota Kediri
ShareTweetShare
Next Post
Donor Darah Keliling Berhadiah, Cara Efektif Penuhi Stok Darah Selama Bulan Ramadhan

Donor Darah Keliling Berhadiah, Cara Efektif Penuhi Stok Darah Selama Bulan Ramadhan

Jurnalmataraman.com

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .

Navigate Site

  • KONTAK
  • REDAKSI

Follow Us

No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .