TULUNGAGUNG, jurnalmataraman.com – Sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan sumber air yang membawa berkah, masyarakat dari empat desa di Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, kembali menggelar upacara adat Ulur-Ulur di kawasan Telaga Buret pada Jumat pagi. Tradisi sakral tahunan ini menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Prosesi budaya tersebut diawali dengan kirab dan arak-arakan sesaji yang diberangkatkan dari pusat desa menuju kawasan Telaga Buret yang terletak di Desa Sawo. Upacara ini diikuti dengan penuh khidmat oleh perwakilan masyarakat dari empat desa penyangga, yakni Desa Sawo, Gedangan, Ngentrong, dan Gamping. Turut hadir pula para sesepuh dari paguyuban Kesepuhan Tirta Mulya yang memimpin jalannya ritual.
Setibanya di bibir telaga, rangkaian acara dilanjutkan dengan ziarah. Salah satu puncak keunikan dari tradisi ini adalah ritual siraman (memandikan) patung Joko Sedono dan Dewi Sri yang dipercaya oleh masyarakat agraris sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Dalam prosesi tersebut, kedua patung tidak hanya dimandikan dengan air kembang. Patung-patung itu juga dihias, diberi minyak wangi, disisir rapi, hingga dipasangkan mahkota yang terbuat dari rajutan janur kuning.
Tokoh masyarakat setempat, Pamuji, mengungkapkan bahwa tradisi Ulur-Ulur merupakan warisan peninggalan nenek moyang yang sudah ada sejak zaman dahulu dan wajib dijaga kelestariannya. Ia menyebut, keberadaan Telaga Buret telah lama menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat sekitar. “Air telaga ini menjadi sumber kehidupan utama bagi lahan persawahan di empat desa. Tidak hanya membawa berkah untuk para petani, aliran air telaga ini juga sangat membantu dan dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di wilayah kami,” ujar Pamuji.
Lebih dari sekadar ritual adat dan wujud syukur, momentum perayaan Ulur-Ulur ini juga membawa pesan ekologis yang mendalam. Masyarakat berharap tradisi ini bisa terus lestari, sejalan dengan komitmen warga untuk menjaga kelestarian lingkungan Telaga Buret. Upaya nyata seperti reboisasi hutan di sekitar hulu dan penjagaan sumber mata air dinilai sangat penting. Hal ini dilakukan agar debit air telaga tetap terjaga dan manfaatnya bisa terus dirasakan oleh anak cucu di masa mendatang.
Editor : Trias / Juwita



