KEDIRI, jurnalmataraman.com – Tradisi Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat yang jatuh pada Sabtu (28/3) besok membawa berkah tersendiri bagi para pedagang di Kota Kediri. Pantauan di Pasar Pahing menunjukkan aktivitas jual beli mulai meningkat drastis seiring banyaknya warga yang berburu janur serta selongsong ketupat.
Lapak-lapak dadakan kini mulai menjamur di area pasar, menjajakan anyaman daun kelapa muda yang menjadi bahan utama hidangan khas hari raya tersebut. Salah satu pedagang, Rubini, mengaku sudah menggelar dagangannya selama lima hari terakhir. Ia merasakan adanya lonjakan permintaan yang cukup signifikan dibanding hari-hari biasanya. “Penjualan mulai meningkat tajam. Dalam sehari, saya mampu menjual antara 100 hingga 200 biji ketupat,” ujar Rubini saat ditemui di sela kesibukannya melayani pembeli.
Untuk urusan harga, Rubini mematok tarif yang cukup kompetitif. Selongsong ketupat (anyaman kosong) dijual seharga Rp 10.000 per 10 biji, sedangkan janur mentah dihargai Rp 8.000 per 10 helai. Bagi masyarakat yang enggan repot, ia juga menyediakan ketupat matang seharga Rp 4.000 per biji.
Fenomena menarik terlihat dari pergeseran minat pembeli. Banyak warga kini lebih memilih membeli ketupat matang atau selongsong yang sudah jadi daripada harus menganyam sendiri dari janur mentah.
Ulin, salah satu pembeli di Pasar Pahing, mengungkapkan bahwa faktor efisiensi waktu menjadi alasan utama dirinya memilih ketupat jadi. “Lebih praktis, tidak perlu ribet menganyam lagi. Jadi tinggal isi beras atau bahkan langsung santap kalau beli yang matang,” tuturnya.
Tradisi Lebaran Ketupat di tahun 2026 ini bertepatan dengan 8 Syawal 1447 Hijriah. Secara filosofis, ketupat memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa, yakni “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan dan saling berbagi maaf. Perayaan ini biasanya dimeriahkan dengan sajian ketupat sayur yang dinikmati bersama keluarga maupun tetangga sekitar.
Editor : Trias M.A



