BLITAR, jurnalmataraman.com – Momentum Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat 1447 Hijriah menjadi ladang rezeki melimpah bagi sejumlah warga di Kota Blitar. Tak tanggung-tanggung, dalam kurun waktu kurang dari sepekan, para perajin ketupat musiman mampu meraup keuntungan hingga jutaan rupiah. Fenomena ini bahkan membuat sebagian warga rela banting setir dan meninggalkan pekerjaan harian mereka demi mengejar “berkah” tahunan ini. Salah satunya adalah Suyono, warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai pedagang ikan asap ini memilih meliburkan usahanya demi fokus memproduksi ketupat matang. Langkah ini diambil lantaran harga jual ketupat siap saji terus merangkak naik setiap tahunnya.
Saat ini, harga satu biji ketupat matang di tingkat perajin mencapai Rp 8.000. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang masih bertengger di kisaran Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per biji. Berkat kenaikan harga dan tingginya permintaan, Suyono mengaku telah mengantongi omzet hingga Rp 9 juta menjelang puncak hari raya ketupat di Blitar.
Untuk mengejar target, Suyono tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh lima orang karyawan yang memiliki tugas spesifik, mulai dari mengisi selongsong janur dengan beras, proses memasak, hingga memasarkannya ke pasar tradisional.
Dapur produksi Suyono tampak mengepul sepanjang hari. Proses pengukusan dilakukan secara tradisional menggunakan kayu bakar dan tungku raksasa. Dibutuhkan waktu sedikitnya empat jam pengasapan agar ketupat matang sempurna dan memiliki ketahanan yang lama. “Ini usaha musiman turun-temurun dari kakek dan orang tua saya. Memang melelahkan, bahkan sampai kurang tidur, tapi hasilnya sebanding. Makanya saya rela libur jualan ikan asap dulu,” ungkap Suyono di sela kesibukannya memantau tungku.
Tingginya minat pembeli ketupat matang ini tak lepas dari pergeseran gaya hidup masyarakat yang menginginkan kepraktisan. Zainul, salah satu pembeli setia, mengaku rutin memesan ketupat jadi setiap tahun untuk keperluan kenduri. “Lebih praktis dan hemat waktu. Kita tidak perlu repot mencari janur atau menganyam sendiri. Beli jadi lebih memudahkan tanpa mengganggu aktivitas lainnya,” ujar Zainul.
Tradisi Lebaran Ketupat di Blitar memang selalu identik dengan acara kenduri dan makan bersama. Bagi para perajin seperti Suyono, momentum ini bukan sekadar melestarikan budaya, melainkan juga mesin penggerak ekonomi yang sangat menjanjikan di setiap pengujung bulan Syawal.
Editor : Trias M.A



