BLITAR, jurnalmataraman.com – Melonjaknya harga kedelai impor di pasaran mulai memukul telak para pengrajin tahu tradisional di Kota Blitar. Akibat kenaikan harga bahan baku utama tersebut, para produsen terpaksa memutar otak agar bisnis mereka tetap bertahan tanpa harus kehilangan pelanggan.
Salah satu pengrajin tahu yang terdampak adalah Wahyu Saputro, warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Ia mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai impor saat ini merupakan imbas dari situasi geopolitik global, yakni konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu rantai pasok komoditas internasional.
Saat ini, harga kedelai impor di wilayah Blitar telah menyentuh angka Rp 10.500 per kilogram. Kondisi ini menempatkan para pengrajin dalam posisi sulit, mengingat kedelai merupakan komponen biaya produksi terbesar. “Sebagai pembuat tahu yang sudah memiliki pelanggan tetap, saya kesulitan jika harus menaikkan harga jual lagi. Apalagi sekitar setahun lalu harga tahu sudah sempat naik saat kedelai menembus angka Rp 10.000,” ujar Wahyu.
Demi menyiasati margin keuntungan yang kian merosot, Wahyu memilih langkah taktis dengan mengubah komposisi takaran bahan baku. Ia menerapkan sistem produksi dengan mengurangi volume kedelai namun memperbanyak bahan isian campuran, sehingga ukuran tahu yang sampai ke tangan konsumen tidak berubah.
Secara teknis, proses pembuatan tahu miliknya masih menggunakan cara tradisional, yakni menggiling kedelai menjadi bubur untuk kemudian dipanaskan. Perubahan dilakukan pada saat pencampuran bahan tambahan seperti cuka dan bahan fermentasi. Dengan mengubah rasio komposisi tersebut, ia tetap bisa memproduksi tahu dengan dimensi yang sama meski bahan utama kedelainya berkurang.Dalam sehari, Wahyu mampu mengolah sekitar 16 kilogram kedelai menjadi tahu siap jual. Saat ini, ia mematok harga Rp 5.000 untuk setiap tiga biji tahu.
Situasi ini membuat para pengrajin tahu tradisional di Blitar merasa resah. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai impor di tingkat lokal, agar keberlangsungan usaha kecil seperti kerajinan tahu ini tetap terjaga dan keuntungan mereka kembali stabil.
Editor : Trias M.A / Karisma



