Kediri,jurnalmatarman.com – Kondisi cuaca dingin ekstrem atau fenomena bediding yang melanda kawasan Kota Kediri dalam dua pekan terakhir memberikan pukulan telak bagi para pembudidaya ikan. Di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren yang dikenal sebagai sentra ikan hias betta atau cupang, puluhan petani harus menelan kerugian puluhan juta rupiah akibat tingginya angka kematian bibit ikan.
Salah satu petani cupang di kawasan tersebut, Andriyansah Maulana, mengaku mengalami kerugian estimasi mencapai Rp 50 juta. Kerugian ini dipicu oleh matinya sedikitnya 10 ribu ekor bibit ikan cupang peliharaannya karena tidak mampu bertahan di tengah suhu ekstrem. Andriyansah menjelaskan, fenomena bediding menyebabkan suhu air kolam pada pagi hari anjlok drastis ke kisaran 21 hingga 24 derajat Celsius. Padahal, suhu normal dan ideal untuk pertumbuhan dan pengembangan ikan cupang berada di angka 27 hingga 30 derajat Celsius.
“Suhu air yang dingin ini sebenarnya tidak langsung memicu datangnya penyakit, tetapi sangat memengaruhi metabolisme ikan. Akibatnya, nafsu makan ikan melambat, proses pencernaannya terganggu, dan laju pertumbuhannya tidak secepat saat suhu air dalam kondisi hangat,” jelas Andriyansah, Selasa (14/7).
Untuk menekan angka kematian yang terus bertambah dan mencegah kerugian yang lebih besar, para petani terpaksa memutar otak. Andriyansah mengambil langkah antisipatif dengan mengurangi frekuensi produksi (breeding) dan lebih selektif menggunakan indukan yang memiliki daya tahan kuat. Selain itu, ia juga melakukan penyesuaian tata letak kolam budi daya. Kolam-kolam tersebut disesuaikan agar mendapatkan paparan intensitas cahaya matahari yang cukup demi menjaga suhu air tetap stabil dan hangat.
Meski diterjang cuaca ekstrem, operasional budi daya di sentra ikan cupang Ketami tetap berjalan. Saat ini, usaha milik keluarga Andriyansah tercatat masih memiliki stok sekitar 50 ribu ekor ikan cupang siap panen, serta menyisakan lebih dari 300 ribu bibit ikan cupang hasil pembibitan periode sebelumnya yang terus dirawat secara ekstra.
(Editor: Afif/Farid)




