KEDIRI, jurnalmataraman.com – Pemerintah Kota Kediri mengambil langkah tegas dengan memberhentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) Tempurejo. Keputusan ini diambil menyusul insiden dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan siswa sekolah dasar setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu lalu.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (25/4), kondisi dapur SPPG yang berada di kawasan Tempurejo terlihat tertutup rapat. Tidak ada aktivitas memasak maupun distribusi makanan seperti biasanya. Penutupan ini dilakukan untuk kepentingan investigasi dan sterilisasi area produksi makanan.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil analisis dan uji laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, ditemukan fakta yang mengejutkan pada sampel makanan. “Dari hasil uji lab, ditemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli atau E-coli pada sampel makanan yang dikonsumsi oleh para siswa. Oleh karena itu, kami terpaksa memberhentikan sementara operasional dapur tersebut,” ujar Vinanda Prameswati.
Tercatat sebanyak 79 siswa yang berasal dari tiga sekolah, yakni SD Tempurejo 1, SD Ketami 1, dan SD Ketami 2, mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu tersebut. Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, Vinanda memastikan bahwa kondisi seluruh siswa kini telah berangsur membaik.
“Saat ini kondisi puluhan siswa tersebut sudah mulai pulih dan mereka sudah dapat beraktivitas seperti biasa,” tambahnya.
Pasca kejadian ini, Pemkot Kediri telah menjalin komunikasi intensif dengan pihak Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penanggung jawab program. Pemkot kini tengah menunggu keputusan resmi dari BGN terkait kelanjutan status operasional maupun evaluasi standar prosedur di dapur SPPG Tempurejo tersebut.
Hingga saat ini, pihak pengelola dapur SPPG Tempurejo belum memberikan keterangan resmi terkait temuan bakteri E-coli di fasilitas mereka. Pemkot Kediri berkomitmen untuk terus memantau kualitas pangan program Makan Bergizi Gratis agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Editor : Trias / Juwita



