Kediri, jurnalmataraman.com – Insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa anak-anak usia sekolah kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan di lingkungan pendidikan. Lima pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) di Kabupaten Kediri terpaksa dilarikan ke RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) guna mendapatkan perawatan medis setelah mengalami mual dan muntah parah, Selasa (28/4).
Saat ini, kelima korban tengah menjalani rawat inap intensif di Ruang Perkutut Lantai 3 RSUD SLG Kediri. Di antara para pasien tersebut, terdapat kakak beradik yang harus dirawat di dalam satu ruangan dengan keluhan medis yang persis sama. Ari Setiarini, salah satu orang tua korban, menuturkan bahwa kedua anaknya, yakni HA, 5, dan SS, 7, belum menyantap makanan apa pun dari rumah sejak pagi. Keduanya baru makan setelah menerima pembagian menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. “Baru sekitar pukul 11.00 WIB siang, saya mendapat telepon dari pihak sekolah. Mereka mengabarkan kalau kedua anak saya mengeluh mual dan sampai muntah-muntah di sekolah,” ungkap Ari.
Dikonfirmasi terkait kondisi pasien, Direktur RSUD SLG Kediri dr. Tony Widyanto membenarkan adanya kasus tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya, Instalasi Gawat Darurat (IGD) menerima enam pasien anak dengan keluhan gangguan pencernaan akut yang terjadi seusai mereka mengonsumsi makanan. “Namun, pada Senin malam, satu pasien sudah diizinkan pulang karena kondisinya terus membaik. Saat ini tinggal tersisa lima anak yang masih dalam perawatan dan pantauan kami,” jelas dr. Tony.
Meski dugaan sementara mengarah pada konsumsi paket Makan Bergizi Gratis, pihak berwenang menegaskan agar masyarakat dan pihak sekolah tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Upaya investigasi menyeluruh demi menjamin keselamatan anak-anak kini tengah berjalan. Sebagai langkah antisipasi dan pencarian fakta, sampel sisa makanan yang dikonsumsi para siswa telah diamankan dan dikirim untuk menjalani uji laboratorium di Surabaya. Hasil uji lab tersebut diharapkan dapat menjadi evaluasi bersama agar insiden serupa tidak kembali menimpa anak-anak di kemudian hari.
( Editor : Saldi / Juwita )



