KEDIRI, jurnalmataraman.com – Dalam upaya menekan angka pengangguran dan membuka akses kerja global bagi generasi muda, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri terus mematangkan program magang kerja ke Jepang. Program ini dinilai menjadi salah satu strategi efektif yang mendapat antusiasme tinggi dari warga usia produktif di wilayah tersebut.
Meski menawarkan peluang yang menjanjikan, kesiapan mental, etos kerja, hingga kemampuan beradaptasi dengan budaya setempat dinilai masih menjadi tantangan utama. Hal tersebut menjadi sorotan dalam agenda Penutupan Pelatihan Daerah (Pelatda) Magang Jepang Tahap I Angkatan 388 Tahun 2026 yang dirangkai dengan sosialisasi program oleh International Manpower (IM) Japan di Gedung Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Rabu (22/4) siang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri, M. Solikin, menegaskan bahwa program magang ke luar negeri ini bukan sekadar urusan mencari pekerjaan, melainkan juga membawa nama baik dan citra tenaga kerja Indonesia di kancah internasional. “Keberhasilan program magang ini sangat ditentukan oleh kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta penguasaan bahasa dari para peserta. Hal ini sangat krusial agar tenaga kerja asal Indonesia tetap dipercaya oleh perusahaan-perusahaan di Jepang,” ujar Solikin.
Lebih lanjut, Solikin memaparkan bahwa program strategis ini berkontribusi nyata pada upaya Pemkab Kediri dalam menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Saat ini, angka TPT di Kabupaten Kediri tercatat berada di level 4,71 persen, turun signifikan dari angka sebelumnya yang mencapai sekitar 5,4 persen.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Kediri, Ibnu Imad, membeberkan dinamika seleksi di lapangan. Ia menyebutkan bahwa dari total 96 peserta yang dinyatakan lolos Pelatda, baru 41 orang yang telah resmi menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan di Negeri Sakura tersebut. “Kondisi ini menunjukkan bahwa persaingannya masih cukup ketat. Oleh karena itu, peserta dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi mereka, terutama kemampuan bahasa Jepang dan kesiapan saat wawancara,” jelas Ibnu Imad.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam memberikan dukungan kepada peserta. Dukungan tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga kondisi fisik dan kedisiplinan belajar peserta sembari menunggu tahapan seleksi berikutnya. Dengan durasi magang yang rata-rata memakan waktu 3 hingga 5 tahun, program ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek untuk menekan pengangguran. Lebih dari itu, Pemkab Kediri menargetkan lahirnya tenaga kerja terampil yang siap bersaing tangguh di pasar kerja global di masa depan.
Editor : Trias / Sea



