Kediri, jurnalmataraman.com – Aroma asap dupa dan kembang kenanga menyelimuti suasana sakral dalam upacara jamasan Arca Dwarapala Totok Kerot yang digelar di Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Kamis sore (24/7). Upacara ini menjadi bukti nyata pelestarian budaya dan penghormatan terhadap situs sejarah lokal yang dipercaya menyimpan nilai spiritual tinggi.
Prosesi jamasan atau ritual pembersihan arca ini dilakukan secara khidmat dengan berbagai ubo rampe sesaji yang disiapkan secara lengkap. Sayup-sayup alunan gending Jawa mengiringi langkah para pengunjung dan warga yang datang dengan penuh takzim ke lokasi arca raksasa tersebut.
Upacara ini digelar oleh komunitas juru pelihara situs dari Kabupaten Kediri dan 2 lainnya dari tingkat provinsi. Mereka berinisiatif menyelenggarakan tradisi ini setiap akhir bulan Suro dalam kalender Jawa. Bulan Suro dianggap bulan yang penuh makna spiritual, sehingga jamasan dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus pembersihan lahir dan batin situs bersejarah.

Arca Totok Kerot sendiri memiliki bentuk yang unik berwujud raksasa perempuan dan menjadi ikon legenda rakyat di Kediri. Dalam cerita turun-temurun, sosok ini diyakini sebagai perwujudan Dewi Surengrana, seorang putri cantik dan harum dari Blitar yang mendapat julukan “Totok Kerot” karena sifat buruknya.
Legenda menyebutkan bahwa Dewi Surengrana jatuh cinta pada seorang raja besar. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan hingga memicu pertempuran. Dalam kisahnya, sang putri akhirnya kalah dan dikutuk menjadi arca raksasa sebagai simbol pelajaran moral.
Dengan latar sejarah dan cerita rakyat yang kuat, upacara jamasan ini tak hanya menjadi peristiwa budaya, tapi juga ruang refleksi atas nilai-nilai lokal dan spiritual yang diwariskan nenek moyang. Bagi masyarakat Kediri, Totok Kerot bukan hanya arca batu, tetapi simbol penjaga, saksi sejarah, sekaligus cermin nilai kemanusiaan yang tak lekang oleh waktu.
( Editor : Daniel & Trias M.A )



