Jurnalmataraman.com
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
Jurnalmataraman.com
No Result
View All Result
Home NGANJUK

Tradisi Boyong Natapraja, Simbol Perpindahan Pemerintahan dan Edukasi Budaya Bagi Pelajar

by redaksi jurnal mataraman
12 Juni 2025 | 14:57
Reading Time: 2 mins read
0
Tradisi Boyong Natapraja, Simbol Perpindahan Pemerintahan dan Edukasi Budaya Bagi Pelajar

Nganjuk, jurnalmataraman.com – Tradisi Boyong Natapraja, sebagai simbol perpindahan pusat pemerintahan dari Kecamatan Berbek ke Pendopo Kabupaten Nganjuk, kembali digelar dengan meriah pada. Prosesi budaya ini tidak hanya menjadi peristiwa sakral, tetapi juga menjadi media edukatif bagi generasi muda.

Dalam rangka menyemarakkan kegiatan tahunan ini, pemerintah daerah turut melibatkan siswa-siswi tingkat SLTP dan SLTA di wilayah Kecamatan Nganjuk Kota. Mereka dihadirkan untuk menyaksikan secara langsung jalannya prosesi, sekaligus mengenal nilai-nilai sejarah dan budaya lokal yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Salah satu siswi, Mei Indra Aulia dari SMAN 1 Berbek, mengaku antusias mengikuti acara ini. Ia mengatakan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari tugas sekolah untuk mengamati dan menuliskan kembali jalannya prosesi boyongan. “Saya senang bisa melihat langsung prosesi adat seperti ini. Selain menarik, juga menambah wawasan tentang sejarah daerah kami,” ujarnya.

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menyampaikan bahwa tradisi boyong bukan sekadar seremoni, namun menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan kerja gotong royong. Ia juga berpesan kepada para kepala dinas agar menanamkan nilai semangat, serta membangun budaya kerja yang cepat dan cermat dalam melayani masyarakat.

“Tradisi ini harus menjadi pengingat, bahwa kita adalah pelayan rakyat. Boyong bukan hanya simbol perpindahan, tetapi juga pergeseran semangat untuk bekerja lebih baik, lebih cepat, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur,” tutur Bupati Marhaen.

Rangkaian acara ditutup dengan tradisi rebutan tumpeng gunungan yang berisi hasil bumi seperti sayur-mayur, buah, dan palawija. Masyarakat tampak antusias berebut gunungan yang diyakini membawa berkah dan keselamatan.

Tradisi Boyong Natapraja menjadi pengingat bahwa sejarah, budaya, dan pendidikan dapat berpadu dalam satu momen, memperkuat jati diri masyarakat Nganjuk sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap kearifan lokal di kalangan generasi muda.

(Rep : A. Syarwani / Editor : Trias M.A)

Bagikan di Media Sosial
ShareTweetShare
Next Post
Pelajar SMKN 1 Boyolangu Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Tulungagung

Pelajar SMKN 1 Boyolangu Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Tulungagung

Jurnalmataraman.com

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .

Navigate Site

  • KONTAK
  • REDAKSI
  • INDEKS
  • TENTANG KAMI

Follow Us

No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .