Kediri, jurnalmataraman.com – Kekayaan seni tradisional Kabupaten Kediri terus memancarkan daya tarik hingga ke mancanegara. Tak hanya diminati pelajar lokal, tarian khas Bumi Panjii ini kini menjadi magnet bagi mahasiswa internasional melalui program pertukaran budaya tahunan. Pesona budaya Indonesia ini salah satunya memikat hati Ava Atkinson, mahasiswi asal Amerika Serikat (AS). Ia terlibat langsung dalam kegiatan Cultural Visit yang digelar di area Sanggar Budaya eks Gedung Kawedanan Pare, Jumat (30/1) sore.
Pantauan di lokasi, Ava tampak antusias berbaur dengan anak-anak dari Sanggar Tari Flying Star Dance. Meski awalnya terlihat canggung, Ava tetap bersemangat mencoba mengikuti setiap lekuk gerakan tari tradisional Jawa yang diajarkan. “Sangat menakjubkan. Saya tidak percaya anak-anak kecil itu hafal dan tahu semua gerakannya dengan sangat baik,” ujar Ava Atkinson dengan nada kagum.
Ava mengakui bahwa menari tari tradisional Jawa tidak semudah yang terlihat. Keanggunan gerak yang ditampilkan anak-anak sanggar ternyata memiliki tingkat kesulitan tinggi bagi pemula sepertinya. “Saya mencoba melakukannya dan jatuh ke sana ke mari. Itu sangat mengagumkan,” imbuhnya sembari tertawa mengenang momen dirinya kehilangan keseimbangan saat mencoba posisi mendak.
Sementara itu, Guru BEC Pare sekaligus pengelola Global Intercultural Program, Sri Indayatun menjelaskan, kolaborasi lintas budaya ini bukanlah hal baru. Program ini telah konsisten berjalan sejak tahun 2022. “Tahun ini memasuki tahun keempat. Para peserta program ini berasal dari berbagai latar belakang akademik di negaranya, termasuk bidang arkeologi dan budaya. Jadi, agenda pengenalan tradisi lokal ini sangat relevan dengan disiplin ilmu mereka,” terangSri Indayatun.
Dipilihnya Pare bukan tanpa alasan. Sebagai kawasan “Kampung Inggris”, Pare telah lama menjadi jujugan wisatawan mancanegara. Hal ini dimanfaatkan untuk mengenalkan sisi lain Kediri, yakni kekayaan seni tari Jawa, kepada dunia luar.
(editor : Trias)



