Blitar,Jurnalmataraman.com – Aksi perundungan (bullying) yang melibatkan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video amatir yang memperlihatkan seorang pelajar di Kabupaten Blitar tengah mengintimidasi hingga menampar temannya, mendadak viral dan memicu keprihatinan di media sosial.
Menindaklanjuti beredarnya video kekerasan fisik tersebut, pihak SMP Negeri 1 Doko, Kabupaten Blitar, langsung bergerak cepat memanggil sejumlah siswa yang terlibat. Proses mediasi digelar pada Jumat siang di Kantor Desa Resapombo, Kecamatan Doko, dengan melibatkan pendampingan dari perangkat desa, Polsek, Koramil, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil mediasi tersebut, disepakati bahwa terduga pelaku perundungan berinisial MBA yang baru duduk di bangku kelas VII resmi mengundurkan diri untuk dipindahkan ke sekolah lain.
Terdapat fakta mengejutkan dari proses mediasi ini. MBA, yang diketahui merupakan anak dari salah satu tenaga pendidik, ternyata memiliki rekam jejak kurang baik. Selain korban berinisial R (siswa kelas VIII) yang terekam dalam video viral, sebelumnya sudah ada tiga siswa lain yang melaporkan diri sebagai korban perundungan oleh pelaku yang sama, meski kasus-kasus tersebut akhirnya berujung damai. Kepala UPT SMPN 1 Doko, Sri Yuana Partiwi, membenarkan adanya pemanggilan para siswa untuk proses pembinaan. “Setelah dilakukan mediasi, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Terduga pelaku juga akan ditarik dan dipindahkan ke sekolah lain,” terangnya.
Terkait pemicu tindak kekerasan tersebut, Kapolsek Doko AKP Hariyono mengungkapkan bahwa insiden ini bermula dari persoalan utang piutang antarpelajar. “Berdasarkan hasil penyelidikan, pada saat kejadian itu terduga pelaku sedang menagih sisa utang sebesar Rp 30 ribu kepada korban. Sebelumnya, korban berutang Rp 100 ribu dan baru dibayarkan Rp 70 ribu,” jelas AKP Hariyono. Meski sempat mengalami trauma akibat intimidasi dan kekerasan fisik yang dialaminya, saat ini korban R dipastikan sudah kembali masuk sekolah seperti biasa. Kejadian ini diharapkan menjadi peringatan keras akan pentingnya peran aktif orang tua dan sekolah dalam mengawasi pergaulan serta memberikan contoh teladan yang baik bagi anak.
( Editor : Trias / Dinda )





