Kediri, Jurnalmataraman.com – Menyambut Hari Santri, suasana Lapangan Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri tampak berbeda dari biasanya. Sebanyak 10.476 santri berkumpul dan menorehkan tinta malam secara serentak di atas kain.
Aksi massal tersebut tak hanya menyemarakkan peringatan Hari Santri, tetapi juga sukses memecahkan Rekor MURI sekaligus rekor dunia untuk kategori kegiatan membatik secara serentak.
Begitu aba-aba dimulai, para santri dengan cekatan menggoreskan canting pada kain bergaris pola gambar Ponpes Lirboyo. Alat dan bahan membatik sebelumnya telah disiapkan dan dibagikan oleh pihak panitia.
Perwakilan MURI, Ari Andriyani, hadir langsung untuk melakukan verifikasi di lapangan. Dari hasil penghitungan, tercatat ada 10.476 santri yang terlibat aktif dalam proses pembuatannya.
“Kehadiran MURI menjadi penanda bahwa agenda ini bukan sekadar festival biasa, melainkan pencapaian yang resmi tercatat dalam sejarah,” ungkap Ari Andriyani di lokasi acara.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Lirboyo KH Adibus Sholeh Anwar menyampaikan bahwa gerakan membatik massal ini merupakan bagian dari ikhtiar melestarikan warisan budaya Nusantara.
Langkah ini sekaligus meneruskan jejak tradisi almarhumah Ibu Nyai Hajah Dlomroh, istri pendiri Ponpes Lirboyo KH Abdul Karim, yang semasa hidupnya memiliki perhatian besar terhadap keterampilan dan tradisi lokal.
“Kegiatan ini bukan semata-mata untuk mengejar rekor, tetapi menanamkan rasa cinta budaya kepada generasi muda pesantren,” tutur KH Adibus Sholeh Anwar.
Lewat torehan rekor dunia ini, santri Lirboyo membuktikan bahwa lingkungan pesantren memegang peran strategis dalam merawat dan menjaga kelestarian warisan budaya bangsa. (Beny Kurniawan)
(Editor : Trias / Fika)



