Kediri, jurnalmataraman.com – Pabrik Gula (PG) Ngadirejo di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, menargetkan produksi sebanyak 80 ribu ton gula dalam musim giling tahun 2025. Target ambisius ini dipasang seiring hasil cek rendemen tebu yang dinilai memuaskan serta kesiapan teknis pabrik menghadapi masa produksi.
Musim giling 2025 resmi dibuka pada Sabtu (10/5) dengan nuansa budaya yang kental. Tradisi Tebu Manten, sebuah ritual adat yang telah dilakukan sejak era colonial kembali digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, petani, dan proses produksi gula yang akan dijalani.
“Tradisi ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan PG Ngadirejo sejak berdiri tahun 1912. Tebu Manten adalah simbol harapan, penghormatan, dan permulaan yang baik untuk musim giling,” ujar General Manager PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono.
Dalam tradisi tersebut, sepasang tebu pilihan diarak bak sepasang pengantin menuju area pabrik. Ratusan pekerja, petani mitra, hingga tokoh masyarakat turut menyaksikan prosesi tersebut.
Wayan menambahkan, pihaknya telah melakukan sejumlah uji coba sistem giling sebelum pembukaan resmi, dengan hasil yang cukup menjanjikan. Pabrik dijadwalkan mulai menerima tebu sejak 10 Mei dan langsung memulai penggilingan sehari setelahnya.
Guna menunjang capaian target produksi, PG Ngadirejo juga menggelontorkan dana investasi sebesar Rp22 miliar. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan performa mesin pabrik, mengingat PG Ngadirejo merupakan salah satu pabrik gula peninggalan Belanda yang masih beroperasi.
“Revitalisasi terus kami lakukan agar PG Ngadirejo bisa tetap bersaing dengan pabrik-pabrik gula modern. Dengan dukungan petani dan karyawan, kami optimis bisa mencapai target tahun ini,” tegas Wayan.
Pembukaan musim giling kali ini juga menjadi momentum bagi PG Ngadirejo untuk memperkuat kemitraan dengan petani tebu lokal, yang selama ini menjadi tulang punggung produksi gula di wilayah Kediri dan sekitarnya.
(editor : Trias M.A)



