Kediri, jurnalmataraman.com – Polemik rencana pembangunan portal digital di pintu masuk Pasar Bandar, Kota Kediri, kian meruncing. Setelah dua kali proses mediasi berujung buntu, puluhan pedagang akhirnya bersepakat mengirimkan surat penolakan resmi kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri.
Penolakan keras ini disuarakan karena pedagang merasa keberatan dengan sistem baru yang dinilai membebani. Mereka menganggap pemasangan portal digital sangat tidak tepat waktu, mengingat perputaran ekonomi dan daya beli masyarakat di pasar tradisional saat ini sedang lesu.
Perwakilan pedagang Pasar Bandar Zaenal Arifin membenarkan bahwa pertemuan langsung dengan Pemkot Kediri dan Perumda Pasar Joyoboyo belum menemukan titik temu. “Kebijakan portal ini jelas sangat memberatkan kami, apalagi kondisi pasar saat ini sedang sepi-sepinya,” keluh Zaenal.
Di sisi lain, Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo Djauhari Luthfi mengaku tidak bisa mengambil keputusan sepihak untuk membatalkan proyek tersebut. Ia berdalih bahwa rencana pemasangan portal digital di kawasan pasar itu sebelumnya sudah didok dan disepakati melalui tahapan rapat paripurna.
Sebagai jalan tengah, Djauhari justru meminta para pedagang untuk menyusun keberatan mereka secara tertulis. “Surat keluhan dari para pedagang itu nantinya akan langsung kami teruskan kepada Pemkot Kediri selaku kuasa pemilik modal agar segera dikaji,” terangnya.
Meski masih diwarnai aksi protes, aktivitas jual beli di Pasar Bandar terpantau tetap berjalan normal seperti biasa. Namun, sebagai bentuk penolakan lanjutan, para pedagang mendesak pihak pengelola untuk menghentikan sementara penarikan retribusi harian sampai ada win-win solution atas polemik ini.(Beny Kurniawan)
(Editor : Afif / Tesa)


