Jurnalmataraman.com
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
Jurnalmataraman.com
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Masjid Al Mudda’i di Kediri Simpan Sejarah Panjang Islam dan Bangunan Tua Asli

by M. Zainurofi
24 Februari 2026 | 14:59
Reading Time: 2 mins read
0
Masjid Al Mudda’i di Kediri Simpan Sejarah Panjang Islam dan Bangunan Tua Asli

Kediri, jurnalmataraman.com – Sebuah masjid tua di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, menyimpan jejak panjang sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Beberapa bagian bangunan masjid bahkan masih asli sejak pertama kali berdiri, lebih dari satu dekade lalu.

Masjid Al Mudda’i mempertahankan sejumlah tradisi lama, termasuk penggunaan jam matahari sebagai penanda waktu salat. Jam matahari ini terbuat dari tembaga dan kuningan, dilengkapi jarum menyerupai paku serta angka numerik penanda jam. Cara membacanya cukup sederhana, yaitu dengan memanfaatkan bayangan sinar matahari.

Di halaman masjid, terdapat sekitar sepuluh pohon sawo kecik yang berdiri kokoh, menjadi ciri khas masjid tua sebagaimana lazim ditemui pada bangunan lawas di Jawa.

Berdasarkan catatan pengurus, masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak era 1920-an atau bahkan sebelumnya. Struktur bangunannya menampilkan ciri khas masjid kuno dengan empat tiang utama atau soko guru dari kayu jati yang masih asli dan belum pernah diganti.

Misnan, pengurus masjid, menyebut konstruksi empat tiang penyangga ini mirip dengan beberapa masjid tua lain di Kabupaten Kediri, seperti Masjid Baiturrahman Tambakrejo Gurah dan Masjid Al Khotib Gurah, yang dibangun sebelum 1930-an.

Nama Al Mudda’i diambil dari tokoh agama setempat, Hasan Mudda’i, yang dikenal sebagai kiai pendiri wilayah tersebut. Hingga kini, di belakang masjid masih terdapat makam Hasan Mudda’i beserta keluarga dan keturunannya.

“Alat jam matahari ini diperkirakan sudah ada sejak sekitar 1980-an, bersamaan dengan renovasi masjid pada 1984. Meski masjid telah beberapa kali direnovasi, terutama lantai dan atap teras depan, empat tiang utama di ruang dalam tetap dipertahankan keasliannya,” ujar Misnan.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini konon juga berfungsi sebagai markas para pejuang melawan penjajah pada 1945 dan sarana edukasi agama bagi masyarakat setempat.

(Editor : Saldi)

Bagikan di Media Sosial
Tags: berita kediriinfo kediriKediri
ShareTweetShare
Next Post
Baznas Trenggalek Tetapkan Zakat Fitrah Rp45 Ribu per Orang

Baznas Trenggalek Tetapkan Zakat Fitrah Rp45 Ribu per Orang

Jurnalmataraman.com

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .

Navigate Site

  • KONTAK
  • REDAKSI
  • INDEKS
  • TENTANG KAMI

Follow Us

No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .