Kediri, jurnalmataraman.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri terus menggencarkan upaya pencegahan penularan Tuberkulosis (TBC). Salah satunya melalui kegiatan tracing atau pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gurah. Sebanyak 150 warga mengikuti pemeriksaan di Balai Desa Banyuanyar.
Mereka yang menjalani pemeriksaan merupakan kontak erat pasien terduga TBC terutama keluarga serumah. Selain itu, kelompok rentan seperti penderita diabetes, anak-anak dengan gizi buruk, serta masyarakat dengan risiko tinggi lainnya juga menjadi sasaran.
Kegiatan ini melibatkan tim medis, kader kesehatan serta dukungan lintas sektor. Kepala Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Kediri Retno Handayani, menyebut fokus pemeriksaan ditujukan pada kelompok paling berisiko.
“Desa Banyuanyar termasuk wilayah dengan kasus TBC aktif. Karena itu, keluarga pasien yang belum pernah diperiksa kami undang untuk menjalani skrining kesehatan paru,” jelas Retno.

Tracing dilakukan dengan mengisi formulir faktor risiko, kemudian warga ditanya mengenai gejala yang dialami seperti batuk lebih dari satu minggu demam atau riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menunjukkan, kasus TBC masih cukup tinggi. Pada 2024 tercatat 19.397 suspek dengan penemuan kasus mencapai 2.815 orang atau 72 persen. Dari jumlah itu, 93 persen menjalani pengobatan dengan tingkat kesembuhan 91 persen.
Namun, pada 2025 angka penemuan kasus menurun menjadi 1.901 kasus atau 51 persen dari 12.444 suspek. Angka pengobatan juga tercatat lebih rendah yakni hanya 46,8 persen dengan tingkat kesembuhan 88 persen.
( Editor : Daniel & Wahyu Adi )



