Tulungagung, jurnalmataraman.com – Peringatan Hari Tari Sedunia yang jatuh pada Rabu (29/4) di Kabupaten Tulungagung menjadi panggung bagi pesan-pesan mendalam. Bukan sekadar gerak estetik, sejumlah seniman disabilitas tuli (tunarungu) membawakan karya tari berjudul Celeng Ngentit sebagai bentuk kritik tajam terhadap fenomena kepemimpinan saat ini.
Pementasan ini menjadi sorotan karena mengangkat isu sensitif mengenai ambisi pribadi pemimpin yang seringkali mengorbankan kepentingan publik. Karya tari ini mengisahkan perilaku oknum pejabat yang seharusnya menjadi pengayom, namun justru terjerumus dalam praktik korupsi yang merugikan rakyat. Perilaku tersebut dianalogikan layaknya tabiat buruk celeng (babi hutan) yang rakus dan merusak.
Menariknya, karya yang sarat makna ini dibawakan oleh kelompok penari disabilitas tunarungu. Kehadiran mereka menjadi representasi kuat suara kelompok minoritas yang selama ini kerap terabaikan di tengah hiruk-pikuk kebijakan publik. Salah satu penari, Alvino, mengungkapkan rasa bangganya bisa tampil dalam peringatan berskala internasional ini. Melalui bahasa isyarat, ia menceritakan perjuangannya mempelajari seni tari tradisional.
“Pertama kali belajar menari jaranan saya merasa sulit, tapi sekarang saya sudah bisa. Saya sangat senang dan bangga hari ini bisa tampil di acara ini,” ujar Alvino penuh semangat. Seniman tari Tulungagung, Ammy Aulia Renata, menjelaskan bahwa karya bertajuk Sang Satria Tama Episode Celeng Ngentit ini memang dirancang sebagai media komunikasi publik. Menurutnya, seni tari adalah bahasa universal untuk merespons kondisi sosial masyarakat.
“Karya ini merupakan bentuk respons atas fenomena para pemimpin yang mengorbankan kepentingan publik demi ambisi pribadi. Kondisi ini memantik kami untuk bersuara melalui media seni,” tutur Ammy.
Pementasan ini tak sekadar menjadi pertunjukan rutin tahunan. Di balik hentakan kaki dan gerakan tangan para penari, terselip harapan besar agar “Bumi Ngrowo” Tulungagung dapat kembali menjadi tempat yang bersih, makmur, dan sejahtera, bebas dari praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Melalui Celeng Ngentit, para seniman disabilitas ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk peduli dan kritis terhadap masa depan bangsa.
( Editor : Saldi / Sea )



