Kediri, jurnalmataraman.com – Warga Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, menggelar aksi unjuk rasa menolak aktivitas penambangan pasir di wilayah mereka. Penolakan ini dipicu oleh keresahan masyarakat akan dampak kerusakan lingkungan yang kian parah, terutama ancaman krisis air bersih. Aksi protes tersebut diwarnai dengan pemasangan sejumlah spanduk penolakan oleh warga. Spanduk-spanduk berisi tuntutan itu dibentangkan di berbagai titik strategis, mulai dari akses jalan masuk desa hingga di sekitar area lokasi penambangan pasir.
Mujianto, salah seorang warga setempat menuturkan, kekhawatiran terbesar masyarakat saat ini adalah rusaknya ekosistem alam yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup mereka. Aktivitas penambangan dinilai menjadi biang keladi menyusutnya ketersediaan air.
Lebih lanjut, warga mengklaim bahwa operasional tambang pasir tersebut telah mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur air bersih desa. Pipa-pipa saluran air dilaporkan rusak parah, bahkan nyaris putus di beberapa titik akibat aktivitas di sekitar kawasan tambang. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat vitalnya sumber air tersebut. Hingga saat ini, warga Desa Satak masih sangat menggantungkan kebutuhan air bersih mereka dari sebuah tandon penampungan air bersejarah yang telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda.
Ketua RW Desa Satak, Suyitno, menegaskan bahwa masyarakat menuntut adanya tanggung jawab dan perhatian serius dari pihak perusahaan pertambangan, terlebih di tengah situasi warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Warga mendesak pihak perusahaan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan masyarakat sekitar. Mereka menuntut dibangunnya komunikasi yang transparan dan solusi konkret antara perusahaan pengelola tambang dengan warga desa agar aktivitas ekonomi tidak mengorbankan hajat hidup orang banyak.
(Editor: Afif / Dhamar)





