Trenggalek, jurnalmataraman.com – Bencana kekeringan masih terus mencengkeram wilayah Kabupaten Trenggalek. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sebanyak 65 desa yang tersebar di seluruh 14 kecamatan kini mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut membuat ribuan warga bergantung pada bantuan air bersih. Guna meringankan beban masyarakat, BPBD Trenggalek terus mendistribusikan air bersih secara bergiliran ke lokasi terdampak.
Selain air bersih, BPBD juga menyalurkan perlengkapan penampungan air berupa 142 tandon air, sekitar 400 jeriken, serta 151 lembar terpal kepada warga.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono menjelaskan bahwa krisis air bersih kali ini terjadi merata di seluruh kecamatan, meski tingkat keparahannya bervariasi.
“Kekeringan telah dilaporkan terjadi di seluruh 14 kecamatan. Meski demikian, dampaknya tidak merata di setiap wilayah,” ujar Stefanus Triadi Atmono.
Dari belasan kecamatan tersebut, Kecamatan Panggul mencatatkan dampak terluas. Dari total 17 desa yang ada di Panggul, sebanyak 13 desa di antaranya mengalami krisis air bersih.
Sementara itu, berdasarkan data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Trenggalek diprediksi masih belum akan diguyur hujan dalam sepuluh hari ke depan. Musim kemarau diperkirakan bertahan hingga akhir November, sedangkan awal musim hujan diproyeksikan baru masuk pada pekan pertama atau kedua Desember mendatang.
Antisipasi dampak kekeringan yang makin meluas membuat BPBD bergerak cepat. Pihaknya kini telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membahas kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Trenggalek. (Simon Bagus – Mochammad Herlambang)
(Editor: Nadya / Trias)



