Kediri, jurnalmataraman.com – Penutupan akses Jembatan Kaliombo 1 yang merupakan salah satu jalur vital penghubung Kediri dan Tulungagung membawa imbas langsung pada mobilitas warga. Ditutupnya jembatan untuk proses revitalisasi ini justru membawa berkah tersendiri bagi para penyedia jasa penyeberangan perahu tambang tradisional di Sungai Brantas.
Sejak Sabtu (6/6) pagi, titik penyeberangan perahu tambang yang berlokasi di Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri, tampak dipadati oleh warga. Mereka lebih memilih menggunakan moda transportasi air ini sebagai jalur alternatif untuk menyeberangi Sungai Brantas menuju Desa Bulu, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, maupun sebaliknya.
Zainal Abidin, salah seorang pengguna jasa penyeberangan, menuturkan bahwa perahu tambang menjadi alternatif paling rasional di tengah penutupan jembatan. Menurutnya, jalur ini dipilih karena efektif memangkas waktu dan jarak tempuh.
“Kalau harus lewat jalur alternatif darat yang diarahkan, jarak memutarnya terlalu jauh, bisa sampai 7 kilometer. Selain itu, kondisi jalan raya di jalur alternatif juga sedang macet parah karena ada penumpukan kendaraan. Lewat perahu tambang lebih praktis dan cepat,” ungkap Zainal.
Lonjakan volume penumpang ini dibenarkan oleh Ali, salah satu pemilik usaha perahu tambang di kawasan tersebut. Ia mengaku armadanya mengalami peningkatan penumpang hingga 50 persen semenjak proyek revitalisasi jembatan dimulai.
“Peningkatannya lumayan terasa. Kalau pada hari biasa rata-rata satu kali tarikan perahu hanya diisi 10 orang, sekarang semenjak jembatan ditutup, bisa meningkat sampai 15 orang sekali jalan,” jelas Ali.
Meski permintaan melonjak drastis, para pelaku usaha perahu tambang memilih untuk tidak aji mumpung. Ali menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak menaikkan tarif penyeberangan. Tarif pelayaran singkat menembah aliran Sungai Brantas tersebut tetap dibanderol dengan harga yang sangat bersahabat, yakni hanya Rp 2.000 untuk setiap satu unit sepeda motor.
( Editor : Saldi / Firman )



