Tulungagung, jurnalmataraman.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan tusuk sate di Kabupaten Tulungagung mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Tingginya antusiasme pasar bahkan membuat para perajin kewalahan dalam memenuhi seluruh pesanan.
Geliat peningkatan produksi ini salah satunya terlihat di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Sukamto, salah seorang perajin tusuk sate setempat, mengungkapkan bahwa ia harus memacu kapasitas produksinya jauh melampaui hari-hari biasa. “Pada bulan-bulan biasa, produksi kami di kisaran 470 ribu tusuk per bulan. Namun menjelang Idul Adha, produksinya kami tingkatkan menjadi 600 ribu tusuk per bulan,” ujar Sukamto.
Meski kapasitas produksi telah digenjot, Sukamto mengaku masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar yang terus mengalir. Kendala utama yang dihadapinya bukanlah pada bahan baku, melainkan pada keterbatasan tenaga kerja dan sempitnya area produksi. Saat ini, ia sebenarnya telah memiliki tiga unit mesin produksi, namun tidak dapat dioperasikan secara maksimal karena keterbatasan tempat.
Untuk menghasilkan kualitas terbaik, pembuatan tusuk sate ini harus melalui delapan tahapan produksi yang teliti. Proses tersebut dimulai dari pemilihan bambu, pembelahan, hingga tahap akhir berupa peruncingan dan penghalusan. Kualitas ini dipertahankan agar produk tetap mampu bersaing di pasaran. Di sisi lain, pasokan bahan baku dipastikan aman. Sukamto menyebutkan, ketersediaan bambu jenis ‘ori’ masih sangat melimpah dan rutin dipasok dari wilayah selatan Tulungagung.
Menariknya, meski permintaan tengah melonjak tajam, harga jual tusuk sate di tingkat produsen tetap stabil. Perajin tetap mematok harga Rp 16 per tusuk atau Rp 16.000 per seribu tusuk. Selain momen Idul Adha, lonjakan permintaan serupa biasanya juga terjadi saat musim hajatan pernikahan. Saat ini, hasil produksi dari Desa Moyoketen tersebut disetorkan ke para pengepul untuk kemudian didistribusikan ke seluruh wilayah Tulungagung dan daerah sekitarnya.
(Editor : Saldi / Zahra)



