KEDIRI, jurnalmataraman.com – Keluhan kini tengah dirasakan oleh para petani sayur di Kota Kediri. Pasalnya, harga plastik mulsa yang menjadi kebutuhan pokok dalam proses tanam mengalami kenaikan signifikan dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini membuat keuntungan petani menurun drastis hingga 30 persen akibat membengkaknya biaya produksi. Keresahan tersebut salah satunya diungkapkan oleh para petani tomat di kawasan Kelurahan Ngletih, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Plastik mulsa, yang berfungsi menjaga kelembapan tanah, mencegah pertumbuhan gulma, serta mengurangi erosi tanah guna meningkatkan kualitas panen, kini harganya tak lagi ramah di kantong petani.
Menurut para petani, harga plastik mulsa yang semula berada di kisaran Rp 31 ribu per kilogram, kini telah melonjak hingga Rp 39 ribu per kilogram. Kenaikan sebesar Rp 8 ribu per kilogram ini berdampak langsung pada laba bersih yang bisa dibawa pulang petani setelah masa panen. “Kenaikan harga plastik ini sangat memberatkan. Apaila diihutung, laba kami berkurang sampai 30 persen dari biasanya karena modal yang keluar di awal sudah sangat besar,” ujar Suyono, salah seorang petani setempat.
Situasi kian sulit lantaran faktor cuaca yang tidak menentu. Selain harga plastik yang mahal, petani juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya operasional lainnya, seperti kebutuhan pupuk dan perawatan ekstra di tengah cuaca buruk. Guna menyiasati kondisi tersebut, para petani terpaksa memutar otak agar tetap bisa berproduksi. Jika dalam kondisi normal plastik mulsa langsung dibongkar setelah satu kali masa panen, kini petani memilih untuk menggunakan kembali plastik tersebut atau memperpanjang masa pemakaiannya meskipun risiko penurunan kualitas tanah meningkat.
Kondisi ini terasa kian ironis jika melihat harga komoditas di lapangan. Saat ini, harga tomat di tingkat petani sebenarnya berada di angka yang cukup baik, yakni sekitar Rp 8 ribu per kilogram. Namun, nominal tersebut belum mampu memberikan keuntungan yang layak bagi petani karena tersedot oleh tingginya biaya operasional yang membengkak sejak awal musim tanam.
Editor : Trias / Sea



