Blitar, jurnalmataraman.com – Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Ungkapan ini tampaknya menjadi kenyataan bagi Jajak warga Desa Selokajang Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Meski berkali-kali gagal dalam tes penerimaan anggota kepolisian, pria tangguh ini justru menemukan jalan suksesnya lewat usaha breeding kambing peranakan etawa (PE).
Berawal dari sekadar coba-coba dengan hanya dua ekor kambing seekor pejantan dan seekor betina kini usaha Jajak berkembang pesat hingga memiliki ratusan ekor kambing PE. Dari usaha tersebut, ia berhasil menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama yang tidak sedikit nilainya.

“Awalnya hanya iseng, tapi lama-lama saya belajar dan tekuni. Sekarang alhamdulillah sudah jadi usaha utama,” ujar Jajak saat ditemui di kandangnya, Senin (…).
Keberhasilan Jajak tidak terlepas dari keuletannya dalam mengembangkan kambing unggulan hasil persilangan yang dikenal memiliki kualitas tinggi. Salah satu kebanggaan Jajak adalah pejantan bernama “Barongan”, kambing kontes yang telah berkali-kali menjuarai berbagai ajang, mulai dari tingkat lokal hingga Piala Presiden.
Barongan yang kini berusia 12 tahun dikenal sebagai salah satu kambing kontes tertua di Indonesia. Dari hasil perkawinannya lahirlah banyak anakan unggulan yang kini tersebar ke berbagai daerah di Tanah Air. Menariknya sebagian besar keturunan Barongan juga sukses menjadi jawara di ajang kontes kambing PE.
Untuk menjaga keaslian dan kredibilitas keturunan, Jajak selalu membuat recording atau dokumen silsilah setiap kali lahir anakan baru. Dengan sistem pencatatan tersebut, asal-usul kambing bisa dilacak secara jelas.
Harga seekor anakan keturunan Barongan terbilang fantastis. Untuk usia 2 hingga 5 bulan, harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per ekor tergantung kualitas dan garis keturunannya.

Tak hanya fokus pada breeding Jajak juga mengembangkan usaha kambing perah peranakan etawa serta membuka layanan “salon kambing” di rumahnya. Dari seluruh kegiatan usahanya, ia mampu meraup omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.
“Selama masih banyak penghobi dan pecinta kambing peranakan etawa, saya yakin usaha ini akan terus menjanjikan,” tutur Jajak optimistis.
Kisah Jajak menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Dari kandang sederhana di Blitar kini namanya dikenal luas di kalangan pencinta kambing PE se-Indonesia.
( Editor : Nina & Wahyu Adi )



