Tulungagung, Jurnalmataraman.com – Pemerintah Kabupaten Tulungagung bersama Pabrik Gula (PG) Mojopanggung menggelar panen perdana tebu program bongkar ratoon di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman. Program peremajaan tanaman ini menjadi langkah strategis untuk mendongkrak produktivitas tebu, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus mendukung swasembada gula nasional.
Panen perdana tersebut memanfaatkan tebu varietas BL 2 hasil tanam tahun 2025 di area persawahan Desa Bolorejo. Lewat program bongkar ratoon, capaian produksi tebu yang semula rata-rata 60 ton per hektare ditargetkan melonjak signifikan menjadi 90 hingga 120 ton per hektare.
Luas tanaman tebu di Tulungagung pada musim giling 2026 tercatat mencapai 4.069 hektare. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang seluas 3.862 hektare. Sejalan dengan itu, cakupan area program bongkar ratoon juga bertambah dari 151,48 hektare menjadi 207,3 hektare.
Di wilayah kerja PG Mojopanggung, program bongkar ratoon tahun ini mencakup area seluas sekitar 500 hektare dan diproyeksikan bakal diperluas pada tahun mendatang.
Penataan peremajaan tanaman ini menjadi krusial mengingat dampak fenomena El Nino sempat menyebabkan kuantitas tebu merosot hingga 30 persen. Kendati demikian, tingkat rendemen justru menunjukkan perbaikan, naik menjadi 8 persen dari yang sebelumnya 6,5 persen.
“Program peremajaan ini sangat penting untuk menjaga kesinambungan produksi tebu daerah,” ujar Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin di lokasi acara.
General Manager PG Mojopanggung Agus Budi Juwono menambahkan bahwa perluasan bongkar ratoon dirancang untuk memastikan pasokan bahan baku pabrik gula tetap stabil.
Di sisi lain, kenaikan harga tebu yang menyentuh angka Rp 120 ribu per kuintal memberikan angin segar serta keuntungan lebih bagi para petani lokal. Meski begitu, tantangan operasional di lapangan masih membayangi.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Tulungagung Santoso mengungkapkan bahwa keterbatasan pupuk bersubsidi dan kendala pengairan masih menjadi ganjalan utama yang kerap dihadapi para petani.
Melalui sinergi program bongkar ratoon ini, diharapkan hasil panen tebu semakin optimal, kesejahteraan petani makin menguat, serta ketersediaan bahan baku industri gula nasional dapat terus terjaga secara berkelanjutan. (Agus Bondan – Beny Setiawan)
(Editor : Trias / Fika)



