Tulungagung, jurnalmataraman.com – Bulan suci ramadhan membawa berkah tersendiri, bagi perajin rempeyek koin di tulungagung. Permintaan camilan gurih dan renyah ini, meningkat hingga empat kali lipat dibanding hari biasa. Bentuknya yang bulat menyerupai koin, membuat rempeyek ini praktis disantap sebagai lauk pendamping, saat berbuka puasa maupun sahur.
Rempeyek koin produksi Bayu Sutrimo, warga Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung ini, dibuat dari campuran tepung beras, tepung tapioka, bawang putih, telur, serta aneka rempah pilihan. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dan tekstur renyah yang khas.
Memasuki sepekan bulan ramadhan, permintaan rempeyek koin meningkat drastis hingga empat kali lipat. Jika pada hari biasa bayu hanya memproduksi sekitar lima kilogram per hari, kini jumlah produksinya melonjak menjadi dua puluh hingga dua puluh lima kilogram per hari.
Bayu mengatakan, ” Peningkatan pesanan terjadi karena ukuran rempeyek yang pas dalam satu gigitan, sehingga cocok dijadikan lauk pendamping saat berbuka maupun sahur. Selain itu, pesanan yang datang baik secara daring maupun langsung diperkirakan terus meningkat, dan mencapai puncaknya sepekan menjelang hari raya idul fitri “. Produk ini banyak digunakan sebagai hidangan untuk tamu.
Rempeyek koin produksi Bayu, diklaim mampu bertahan hingga tiga bulan dalam penyimpanan yang baik. Produk ini dijual dengan harga 65 ribu rupiah per kilogram, tersedia dalam tiga pilihan kemasan, yaitu 250 gram, satu kilogram dan dua kilogram.
(Editor : Saldi)



