Jurnalmataraman.com
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
Jurnalmataraman.com
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Bara Tak Pernah Padam di Bengkel Margiono

by Beny Kurniawan
30 Mei 2025 | 09:00
Reading Time: 2 mins read
0
Bara Tak Pernah Padam di Bengkel Margiono

Kediri, jurnalmataraman.com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan serbuan alat-alat pertanian modern, Margiono, seorang kakek berusia 68 tahun, tetap setia memegang palu dan besi panas di bengkel sederhananya. Bertempat di Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Margiono menjalani profesi sebagai pande besi, sebuah keterampilan turun-temurun yang diwarisi dari sang kakek sejak zaman kolonial Belanda.

Meski banyak perajin telah beralih menggunakan mesin-mesin canggih, Margiono tetap mempertahankan metode tradisional. Dengan tangan terampil, ia menempa besi panas menjadi cengkrong arit khas berbentuk melengkung yang digunakan untuk menebang tebu dan cangkul. Semua proses dilakukan secara manual, mulai dari pemanasan besi menggunakan pompa angin, hingga pembentukan menggunakan palu berat.

“Kalau pakai mesin, memang cepat. Tapi rasanya beda. Arit buatan tangan lebih kuat dan tajam,” ujar Margiono saat ditemui di bengkel kecilnya, di tengah denting besi yang ditempa.

Dalam menjalankan usahanya, Margiono dibantu oleh anaknya dan satu orang pekerja. Menjelang musim panen tebu seperti sekarang, pesanan meningkat drastis. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan hingga enam arit secara manual. Satu cengkrong dihargai Rp130 ribu, sedangkan cangkul dijual seharga Rp180 ribu.

Margiono bukan sekadar perajin besi. Ia adalah penjaga bara tradisi di tengah arus zaman yang terus berubah. Lewat keuletan dan ketulusannya, ia membuktikan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, selama masih ada petani yang menggantungkan harapannya pada alat tajam buatan tangan.

“Selama masih ada petani yang butuh arit tajam dan pacul kuat, bara di tempat kerja saya akan terus menyala,” tutup Margiono dengan senyum.

(Dimas & Trias M.A)

Bagikan di Media Sosial
Tags: bara tak pernah padambengkel margionoberita kediriinfo kedirikelurahan banaran
ShareTweetShare
Next Post
Pemkot Kediri Bongkar 35 Lapak PKL Liar Demi Tertibkan Kawasan Kota

Pemkot Kediri Bongkar 35 Lapak PKL Liar Demi Tertibkan Kawasan Kota

Jurnalmataraman.com

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .

Navigate Site

  • KONTAK
  • REDAKSI

Follow Us

No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .