TULUNGAGUNG, jurnalmataraman.com – Kebijakan penyesuaian harga liquefied petroleum gas (LPG/elpiji) nonsubsidi yang berlaku sejak 18 April lalu rupanya tidak banyak menggoyahkan tingkat konsumsi di daerah. Di Kabupaten Tulungagung, meski harga terkerek naik antara 19 hingga 28 persen, permintaan pasar terhadap bahan bakar gas tersebut terpantau tetap stabil dan tidak mengalami penurunan yang berarti.
Manajer Agen PT Gas Elpindo Jaya, Agung Ari, membenarkan adanya kenaikan harga yang ketetapannya diatur langsung oleh PT Pertamina tersebut. Ia merinci, untuk elpiji Bright Gas kemasan 5,5 kilogram (kg) mengalami kenaikan sebesar 19 persen atau Rp 17.000 per tabung. Harga jualnya terkerek dari yang semula Rp 90.000 menjadi Rp 107.000. Kenaikan dengan persentase serupa, yakni 19 persen, juga berlaku untuk elpiji kemasan 12 kg. Tabung gas yang identik dengan warna biru dan merah muda ini naik Rp 36.000 per tabung, dari harga sebelumnya Rp 192.000 kini menjadi Rp 228.000.
Sementara itu, lonjakan harga paling signifikan terjadi pada elpiji industri kemasan 50 kg yang naik hingga 28 persen atau selisih Rp 234.000 per tabung. Harganya melompat dari Rp 839.000 menjadi Rp 1.073.000. Menurut Agung, penyesuaian harga untuk elpiji nonsubsidi kemasan 5,5 kg dan 12 kg sebenarnya dapat dimaklumi lantaran sudah cukup lama tidak ada revisi harga dari pusat.
“Kenaikan harga Bright Gas nonsubsidi ini terakhir kali terjadi sudah cukup lama, sekitar tahun 2022 atau 2023 lalu. Sedangkan untuk harga gas elpiji 50 kilogram, memang selalu ada update penyesuaian setiap bulannya,” terang Agung.
Meskipun terjadi lonjakan harga yang cukup lumayan, roda distribusi di agen-agen terpantau normal. Stabilnya permintaan ini, lanjut Agung, tidak terlepas dari segmen pasar elpiji nonsubsidi yang memang menyasar kelas menengah ke atas serta sektor produktif. Ia menambahkan bahwa serapan gas elpiji nonsubsidi terbesar di wilayahnya saat ini ditopang oleh sektor usaha dan pelayanan. Permintaan tertinggi mayoritas datang dari rumah makan berskala besar, dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), instalasi gizi rumah sakit, hingga sektor peternakan ayam yang membutuhkan pemanas gas dalam jumlah besar.
Editor : Trias / Juwita



