KEDIRI, jurnalmataraman.com – Sektor industri tahu rumahan di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, yang selama ini menjadi ikon oleh-oleh khas Kota Tahu, kini tengah menghadapi ujian berat. Tren kenaikan harga kedelai yang tak kunjung melandai mulai dikeluhkan para perajin karena memicu pembengkakan biaya produksi.
Marjuni, salah satu pengusaha tahu di kawasan industri rumahan Tinalan, mengungkapkan bahwa gejolak harga bahan baku utama tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak momentum sebelum Lebaran lalu. Namun, hingga saat ini harga tak kunjung kembali normal. “Dari harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp 9.000 per kilogram, kini sudah menembus angka Rp 12.000 per kilogram,” ujar Marjuni.
Kenaikan yang mencapai Rp 3.000 per kilogram ini diakui sangat signifikan memangkas margin keuntungan para perajin secara drastis. Kondisi ini memaksa para pengusaha untuk memutar otak agar dapur produksi tetap mengepul. Sebagai langkah penyelamatan, Marjuni terpaksa melakukan penyesuaian harga jual pada produk unggulannya, terutama tahu kuning yang menjadi buruan wisatawan. Harga tahu kuning kini dipatok menjadi Rp 30.000 per sepuluh biji, naik dari harga awal Rp 28.000. “Sementara untuk tahu putih harganya masih kami pertahankan tetap, namun itu pun sangat bergantung pada permintaan pelanggan di pasar,” tambahnya.
Meski masih mampu memproduksi sekitar 500 biji tahu putih serta 150 hingga 200 biji tahu kuning setiap harinya, Marjuni mengaku konsistensi produksi ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang masuk. Dampak dari kenaikan harga jual ini pun mulai terasa pada daya beli masyarakat. Marjuni mengaku harus menelan pil pahit dengan penurunan omzet yang mencapai 20 persen.
Para perajin berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai agar industri kreatif legendaris di Kota Kediri ini tidak gulung tikar.
Editor : Trias / Sea



