Kediri, jurnalmataraman.com – Memasuki pekan pertama Ramadan, harga buah kurma di pasar tradisional maupun pusat oleh-oleh di Kota Kediri mulai merangkak naik. Selain tingginya permintaan masyarakat, tersendatnya pasokan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah ditengarai menjadi pemicu utama melambungnya harga buah khas padang pasir tersebut.
Pantauan di kawasan Jamsaren, Kota Kediri, yang menjadi salah satu pusat penjualan kurma, tampak dipadati pembeli. Warga berbondong-bondong memborong kurma sebagai menu wajib untuk berbuka puasa maupun sahur.
Salah seorang pedagang kurma di kawasan Jamsaren, Rifqi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis kurma. Kenaikan paling signifikan terasa pada jenis Kurma Mesir.
“Sebelumnya harga per 10 kilogram (satu dus) itu hanya Rp 250 ribu. Sekarang sudah tembus di angka Rp 375 ribu. Naiknya cukup drastis, sekitar Rp 125 ribu per dus,” ujar Rifqi.
Meski harga melonjak, antusiasme pembeli justru meningkat. Rifqi mengaku mampu menjual hingga 3 ton kurma hanya dalam waktu satu minggu terakhir. Namun, tingginya omzet ini tidak berbanding lurus dengan laba.
“Laba kami justru turun sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu karena modalnya sudah tinggi sekali dari distributor,” imbuhnya.
Selain faktor permintaan musiman, para pedagang mulai mengkhawatirkan stabilitas stok ke depan. Kabar penutupan Selat Hormuz imbas eskalasi konflik antara Israel dan Iran disebut-sebut mulai berdampak pada jalur logistik impor dari Timur Tengah.
Hal ini membuat sejumlah stok kurma di pasaran mulai mengalami kekosongan. Pedagang berharap pemerintah bisa turun tangan atau setidaknya memberikan solusi agar harga tidak semakin liar di sisa bulan Ramadan ini.
Di sisi lain, bagi konsumen, kenaikan harga ini tetap harus disiasati demi menjaga tradisi Ramadan. Siti, salah seorang pembeli asal Kediri, mengaku tetap membeli kurma dalam jumlah banyak untuk stok satu bulan penuh.
“Sudah rutin beli di sini setiap tahun. Walaupun harganya naik, tetap beli lebih banyak dari biasanya karena untuk kebutuhan keluarga saat buka dan sahur. Kurma itu wajib ada di meja,” kata Siti.
Kini, para pedagang hanya bisa pasrah dan berharap jalur distribusi kembali normal agar mereka tidak semakin merugi akibat mahalnya harga kulakan yang tak menentu.
(Editor : Trias M.A)



