Kediri, jurnalmataraman.com – Pemerintah Kabupaten Kediri bekerjasama dengan ratusan umat Hindu dan tokoh lintas agama menggelar Tradisi Tirtayatra di kawasan Candi Tegowangi, Kabupaten Kediri. Selain sebagai sarana merawat nilai-nilai budaya leluhur, momentum ini menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus pemantap kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Kediri. Suasana kebersamaan tampak kental saat para tokoh dari berbagai latar belakang agama, jajaran pemerintah daerah, serta masyarakat hadir memadati situs peninggalan era Kerajaan Majapahit tersebut.
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, A.A.G.N. Ari Dwi Payana menyampaikan bahwa tradisi Yatra atau perjalanan spiritual sejatinya bukan milik satu golongan saja, melainkan ada dalam akar berbagai ajaran agama. “Umat Islam mengenal tradisi perjalanan suci ke Makkah dan Madinah serta ziarah ke makam para wali. Begitu pula umat Kristiani yang mengenal tradisi ziarah ke tempat-tempat bersejarah dan spiritual,” ujar Ari Dwi Payana saat memberikan sambutan.
Ia menegaskan, hakikat dari Yatra tidak sekadar perjalanan fisik atau wisata religi semata, melainkan sarana perenungan moral dan penghormatan terhadap sejarah. Candi Tegowangi yang dibangun pada masa Raja Hayam Wuruk, menurutnya, menyimpan relief ajaran Sudamala sebuah konsep penyucian diri, pengruwatan, serta wadah dialog antar sesama melalui konsep Pasaban.
Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Pihaknya menilai penyelenggaraan Tirtayatra di Candi Tegowangi berhasil menghadirkan ruang toleransi dan semangat kebersamaan yang nyata. PHDI juga menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Kediri atas komitmennya mendukung kegiatan keagamaan dan kebudayaan.
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan tagline “Kediri Berbudaya” yang telah menjadi identitas Kabupaten Kediri sejak akhir tahun 2022. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai perjalanan sejarah dan budayanya. Tradisi seperti ini memperkuat karakter masyarakat Kediri yang bertoleransi tinggi,” tutur Bupati yang akrab disapa Mas Dhito tersebut.
Kehadiran para pendeta, Kepala Kantor Kementerian Agama, tokoh umat Hindu, serta berbagai elemen masyarakat semakin menegaskan kuatnya semangat pluralisme di Kabupaten Kediri. Rangkaian acara ditutup dengan pertunjukan seni tradisi berupa Pementasan Tari Topeng Wayang Wong Tantri dan Topeng Dalem Jawi. Pementasan seni ini menjadi penutup yang manis sekaligus wujud komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya Nusantara di tengah keberagaman.
( Editor : Arno / Erma )




