Kediri, jurnalmatahari.com – Di tengah perkembangan kota, berdiri salah satu masjid bersejarah yang menjadi saksi perjuangan syiar Islam, yakni Masjid Al Alawi Kediri. Masjid yang berada di tepi Sungai Brantas, Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto itu tetap terjaga keasliannya meski telah berusia ratusan tahun.
Masjid Al Alawi dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kota Kediri. Berdasarkan penuturan pengurus, masjid tersebut didirikan pada abad ke-17 oleh Kiai Ali Ma’lum yang berasal dari Kalangbret, Tulungagung. Pendirian masjid itu merupakan bagian dari misi penyebaran agama Islam di wilayah Kediri.
Dalam prosesnya, Kiai Ali Ma’lum menyusuri Sungai Brantas untuk mencari lokasi yang tepat. Saat menyeberangi sungai, ia menemukan kawasan yang masih berupa hutan namun tercium aroma melati yang harum. Karena itulah, kawasan tersebut kemudian dijadikan tempat tinggal sekaligus lokasi pembangunan masjid, yang selanjutnya dikenal dengan nama Banjarmlati.
Meski telah berusia sekitar 450 tahun, bangunan masjid masih mempertahankan bentuk aslinya. Arsitekturnya kental dengan nuansa Jawa, menyerupai pendopo, dengan empat tiang utama dan delapan tiang penyangga. Pada bagian atap limas segi empat, terdapat dua ruas balok kayu berhias ukiran yang diyakini sudah ada sejak awal berdirinya masjid.
Masjid ini tercatat pernah mengalami renovasi pada era 1980-an tanpa mengubah bentuk utama bangunan. Hingga kini, keaslian struktur dan ornamen kayu tetap dipertahankan.
Menurut pengurus masjid, Abdul Aziz, Masjid Al Alawi juga memiliki keterkaitan sejarah dengan sejumlah pondok pesantren besar di Jawa Timur. Keturunan Kiai Ali Ma’lum disebut menjadi pendiri beberapa pesantren ternama di Kediri, seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Al Falah Ploso (Jampes), serta Pondok Pesantren Batokan.
Hingga saat ini, Masjid Al Alawi masih aktif digunakan untuk kegiatan ibadah, mulai dari salat lima waktu hingga kegiatan tadarus Al-Qur’an dan pengajian selama bulan Ramadan.
(Editor : Saldi)



