Blitar, Jurnalmataraman.com – Kesenian tradisional jaranan boleh saja mulai tergeser zaman, tetapi tidak bagi Catur Aprilia Wijayanto. Pemuda berusia 22 tahun asal Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar ini justru mantap menekuni pembuatan jaran kepang secara otodidak.
Darah seni yang mengalir dari sang nenek menjadi pemantik utama kecintaannya pada dunia seni tradisi. Langkah ini tidak hanya diambil sebagai ceruk usaha, melainkan juga ikhtiar menjaga kelestarian tradisi dan budaya asli Nusantara agar tidak punah ditelan masa.
Catur menjadi satu-satunya pengrajin jaran kepang di lingkungan tempat tinggalnya. Menariknya, aktivitas merangkai kerajinan bambu tersebut ia kerjakan di sela-sela waktu istirahat dari pekerjaannya sehari-hari sebagai penjaga kebersihan di Makam Adipati Aryo Blitar.
Perkenalannya dengan dunia jaranan sebenarnya sudah terpupuk sejak ia duduk di kelas empat sekolah dasar. Berawal dari kepiawaiannya menari, Catur kerap menjajal berbagai panggung kuda lumping hingga menembus ibu kota.
Melihat geliat kesenian kuda lumping yang mulai ditinggalkan generasi muda, Catur tergerak untuk mulai memproduksi kerajinan tersebut sejak 2025 lalu. Bermula dari keinginan pribadi untuk memiliki koleksi kuda lumping sendiri, ia nekat belajar secara mandiri hingga berhasil merampungkan karya pertamanya.
Kualitas buatan tangannya langsung memikat perhatian. Salah satu rekannya yang tertarik kemudian menjadi pemesan pertama, hingga kini pesanan terus mengalir dari berbagai daerah di Indonesia.
Catur Aprilia Wijayanto mengungkapkan bahwa usahanya ini berawal dari keisengan dan kecintaan pada seni tradisi yang akhirnya mendatangkan peluang rezeki.
Usaha yang berawal dari hobi tersebut kini berbuah manis secara ekonomi. Satu unit jaran kepang hasil olahan tangannya dibanderol dengan harga berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung tingkat kerumitan dan detail pembuatannya. (Qithfirul Aziz)
(Editor: Trias / Sabrina)



