Jurnalmataraman.com
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
Jurnalmataraman.com
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Tren S Line di Media Sosial Tuai Kontroversi, Dinilai Tak Sesuai Norma Kesopanan  

by Editor
19 Juli 2025 | 12:04
Reading Time: 2 mins read
0
Tren S Line di Media Sosial Tuai Kontroversi, Dinilai Tak Sesuai Norma Kesopanan  

Kediri, jurnalmataraman.com – Usai penayangan drama Korea berjudul S Line, tren baru bernama “S Line” mulai ramai bermunculan di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan TikTok. Tren ini ditandai dengan unggahan foto atau video yang menampilkan efek garis merah menyerupai huruf “S” di atas kepala pengguna, sebuah gimmick visual yang terinspirasi dari adegan dalam drama tersebut.

Meski awalnya dimaksudkan untuk hiburan semata, tren ini justru memicu kontroversi. Banyak pihak menilai bahwa konsep di balik tren ini mengarah pada hal-hal yang bersifat sensitif, bahkan tabu di kalangan masyarakat Indonesia.

Pasalnya, tren S Line dianggap menjadikan pengalaman seksual sebagai bahan konsumsi publik. Hal ini dikhawatirkan bisa memberi dampak buruk bagi generasi muda, terutama remaja yang tengah aktif menggunakan media sosial. Mereka bisa saja menangkap pesan keliru, bahwa nilai diri seseorang diukur dari riwayat pengalaman seksualnya.

“Tren semacam ini berisiko membentuk persepsi sosial yang menyimpang, terutama di kalangan usia rentan. Ketika hal-hal pribadi justru dipertontonkan seolah-olah prestasi, itu akan berdampak pada cara anak muda memandang identitas dan harga dirinya,” ujar seorang pemerhati media sosial, Sabtu (19/7).

Tak hanya persoalan nilai, partisipasi dalam tren ini juga membawa risiko sosial. Konten dengan nuansa yang dianggap vulgar berpotensi menuai hujatan dari warganet. Akibatnya, tidak sedikit yang kemudian mengalami tekanan mental, kehilangan kepercayaan diri, bahkan depresi dan trauma.

Tren ini pun dinilai bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan yang selama ini dijunjung tinggi di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, berbagai kalangan mulai menyerukan pentingnya literasi digital dan penguatan edukasi etika bermedia sosial, agar masyarakat terutama generasi muda lebih bijak dalam mengikuti arus tren daring.

( Editor : Ilham & Trias M.A )

Bagikan di Media Sosial
Tags: generasi mudainfo kediriinstagram&tiktokmedia sosialtren S Line
ShareTweetShare
Next Post
Lestarikan Warisan Leluhur , Warga Balerejo Blitar Pesisir Selatan Gelar Sedekah Bumi

Lestarikan Warisan Leluhur , Warga Balerejo Blitar Pesisir Selatan Gelar Sedekah Bumi

Jurnalmataraman.com

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .

Navigate Site

  • KONTAK
  • REDAKSI

Follow Us

No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .