Nganjuk, jurnalmataraman.com – Potret kemiskinan masih tampak jelas di tengah masyarakat Kabupaten Nganjuk. Seperti yang dialami Sri Rejeki (34), warga Dusun Kedungrejo, Desa Jatirejo, Kecamatan Rejoso, yang harus berjuang seorang diri menghidupi ibunya yang sudah lanjut usia serta dua anaknya yang masih kecil.
Setiap hari, Sri harus merawat ibunya, Sujarmi (86), yang menderita penyakit jantung bocor. Kondisi Sujarmi yang sudah tak mampu beraktivitas membuat seluruh kebutuhan sehari-harinya bergantung pada Sri. Di sisi lain, Sri juga harus menanggung biaya sekolah dua anaknya yang berusia 13 dan 5 tahun.
Kehidupan Sri semakin berat sejak bercerai dengan suaminya tiga tahun lalu. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu. “Kadang dapat kerja, kadang tidak. Kalau tidak ada kerja, ya bingung buat makan,” tuturnya lirih.
Meski tergolong keluarga miskin, Sujarmi sempat terdaftar sebagai penerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) pada awal 2025. Namun hingga kini, belum ada satu pun bantuan yang diterimanya, baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Bahkan, bantuan lansia, bantuan sosial dari APBD, maupun program bedah rumah belum pernah mereka rasakan.
“Saya hanya dapat bantuan uang Rp300 ribu per bulan dari pemerintah desa. Itu pun tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Sri.

Menurut Sunarto, perangkat Desa Jatirejo, keluarga Sujarmi sebenarnya sudah layak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun bantuan lansia dari APBD. Namun hingga kini, data mereka belum juga masuk dalam daftar penerima bantuan.
“Pihak desa sudah berkali-kali mengajukan bantuan bedah rumah untuk Mbah Sujarmi, tapi belum juga terealisasi,” ungkap Sunarto.
Kini, harapan besar hanya tersisa pada kepedulian Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Sri Rejeki dan ibunya berharap agar pemerintah dapat memperhatikan nasib mereka dan memberikan hak bantuan sebagaimana dijanjikan kepada masyarakat miskin.
Mereka berharap janji kesejahteraan bukan hanya sekadar slogan politik, tetapi benar-benar dirasakan oleh warga yang membutuhkan.
(Editor : Wahyu Adi)



