Trenggalek, jurnalmataraman.com – Tradisi turun-temurun Ngetung Batih kembali digelar dengan penuh kemeriahan di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Rabu (17/6). Ribuan warga tumpah ruah memadati Lapangan Budaya setempat untuk mengikuti rangkaian upacara adat tahunan yang kini telah berstatus sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tersebut.
Digelar bertepatan dengan momen bulan Suro, tradisi ini tidak sekadar menjadi ritual pelestarian budaya leluhur, melainkan telah menjelma menjadi momen kebersamaan dan ajang silaturahmi masyarakat. Sejak pagi hari, antusiasme warga dari berbagai penjuru desa sudah terlihat memenuhi lokasi acara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang menampilkan Takir Plontang, yakni wadah tradisional berbahan daun pisang yang diisi dengan aneka sajian dan sesaji khas masyarakat Dongko. Ratusan takir tersebut diarak meriah menyusuri jalan-jalan protokol sebelum akhirnya dibawa ke Lapangan Budaya untuk mengikuti prosesi doa bersama. Ketua Panitia Upacara Adat Ngetung Batih, Didit Sasongko, memaparkan bahwa gelaran tahun ini sengaja mengusung tema “Raket Rukun Raharjo”. Tema tersebut mencerminkan harapan agar nilai-nilai budaya mampu mempererat persatuan masyarakat sekaligus mendorong terciptanya kesejahteraan.
Lebih lanjut, tradisi Ngetung Batih sendiri berakar dari kebiasaan masyarakat zaman dahulu dalam menghitung jumlah anggota keluarga di rumah, atau yang dalam bahasa setempat disebut batih. Setiap keluarga akan menyiapkan takir nasi sejumlah anggota keluarga mereka, ditambah dengan satu takir khusus yang dinamakan Takir Plontang. “Takir ini pada dasarnya adalah simbol kebersamaan dan wujud rasa syukur yang mendalam atas segala rezeki yang telah diterima masyarakat selama satu tahun terakhir,” jelasnya.
Sebagai bentuk wujud sedekah bumi, warga tidak hanya membawa takir, tetapi juga menghadirkan beragam hasil pertanian dan ternak. Gunungan yang tersusun dari jagung, padi, aneka biji-bijian, hingga ayam kampung hidup turut diarak dan menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi adat yang menyedot perhatian pengunjung ini.
Puncak kemeriahan festival pecah saat memasuki prosesi rebutan Takir Plontang dan pelepasan ayam hidup. Sesaat setelah lantunan doa bersama selesai dibacakan, ratusan warga langsung berhamburan berlari menuju area utama panggung. Mereka tampak antusias memperebutkan isi takir serta berusaha saling mendahului untuk menangkap ayam yang dilepaskan oleh panitia. Bagi masyarakat Dongko, tradisi rebutan ini diyakini akan membawa berkah. Ritual tersebut juga menjadi simbol harapan agar hasil panen pertanian, hasil peternakan, maupun usaha masyarakat dapat semakin baik dan melimpah pada tahun-tahun berikutnya.
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek, Tony Widianto, menuturkan bahwa Ngetung Batih terus mengalami perkembangan pesat sejak mulai digelar secara terbuka pada tahun 2015. Kini, acara tersebut telah menjadi salah satu agenda kebudayaan terbesar di Trenggalek. “Puncaknya pada tahun 2023 lalu, tradisi Ngetung Batih ini secara resmi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pemerintah daerah sangat berharap partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga tradisi ini terus meningkat, agar nilai-nilai luhur budaya kita tetap lestari di tengah derasnya arus perkembangan zaman,” pungkas Tony.
( Editor : Afif / Yusa )



