Kediri, jurnalmataraman.com – Puluhan kepala keluarga di Dusun Krajan, Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek hingga kini masih bergantung pada air sumur yang tercemar. Kondisi ini sudah berlangsung selama lebih dari enam dekade dan belum ada solusi permanen yang benar-benar dirasakan warga.
Air sumur yang digunakan sehari-hari tampak keruh berwarna kekuningan, berminyak dan mengeluarkan aroma logam karat. Meski demikian, warga terpaksa memanfaatkannya untuk kebutuhan dasar seperti mencuci dan mandi.

“Airnya bau karat dan warnanya kuning. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang ada,” tutur Amin, warga RT 16 RW 03 Dusun Krajan.
Untuk keperluan konsumsi, warga harus mengendapkan air terlebih dahulu selama satu hari sebelum dimasak. Cara tersebut dilakukan agar kotoran dan endapan logam bisa berkurang meski hasilnya belum benar-benar jernih.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya sumber air bersih di wilayah tersebut. Saat musim kemarau hampir seluruh sumur warga mengering sehingga tidak ada pilihan lain selain tetap memanfaatkan air sumur yang sudah tercemar itu.

Kepala Dusun Krajan, Supriyanto menjelaskan bahwa rata-rata sumur warga memiliki kedalaman delapan hingga dua belas meter. Pencemaran diduga berasal dari aliran sungai yang melewati area persawahan di sekitar permukiman.
“Kami menduga pencemaran ini karena air sungai yang meresap ke sumur-sumur warga. Kondisi ini sudah terjadi sejak lama,” ujar Supriyanto.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, pemerintah desa telah mengajukan bantuan distribusi air bersih secara berkala melalui BPBD Trenggalek. Sementara itu, pemerintah kabupaten berencana memberikan bantuan pembuatan sumur dalam untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga secara berkelanjutan.
Masyarakat berharap upaya tersebut segera terealisasi agar mereka dapat menikmati air bersih tanpa harus khawatir dengan risiko kesehatan akibat penggunaan air tercemar.
(Editor : Alfian & Wahyu Adi)



