Tulungagung, jurnalmataraman.com – Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-820 Kabupaten Tulungagung, Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Pameran Temporer Museum bertajuk “Lintas Masa Peradaban Bangsa.” Pameran ini berlangsung di Museum Daerah Tulungagung selama tiga hari mulai 21 hingga 23 Oktober 2025.
Kegiatan ini menghadirkan sepuluh instansi peserta, terdiri dari lima museum dari luar daerah serta lima komunitas budaya lokal Tulungagung. Tujuan utama pameran ini adalah mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk menelusuri jejak sejarah bangsa secara sistematis dan kontekstual, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.
Beragam lembaga yang turut berpartisipasi di antaranya adalah Museum Keraton Sumenep, Museum Sepuluh Nopember Surabaya, Museum Airlangga, Museum FIB Universitas Airlangga, Museum Singhasari, Tim Ahli Cagar Budaya Tulungagung, Museum Desa Tenggar, Mustika Antikalaya, Komunitas Asta Gayatri dan Komunitas Aji Nyawiji.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung, Aris Wahyudiono menyampaikan bahwa pameran ini merupakan upaya nyata pemerintah untuk memperkuat identitas budaya daerah melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mempertemukan masyarakat dengan sejarah dan budaya, agar tumbuh rasa memiliki serta kepedulian dalam menjaga warisan leluhur,” ujarnya.

Namun demikian dalam sambutannya saat membuka pameran, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo memberikan catatan kritis. Ia menilai pelaksanaan pameran belum berjalan secara maksimal, mengingat rendahnya tingkat kehadiran pejabat yang telah diundang.
“Banyak pejabat yang tidak hadir dan hanya sebagian kecil OPD yang menunjukkan dukungan secara langsung. Ini tentu menjadi bahan evaluasi bagi kami terhadap kinerja dan komitmen perangkat daerah,” ungkap Bupati.
Meski demikian Bupati tetap mengapresiasi jalannya pameran yang telah memberikan ruang edukasi kepada pelajar dan masyarakat umum. Ia menegaskan pentingnya terus menggelorakan semangat nguri-uri budaya sebagai bentuk cinta kepada sejarah dan jati diri bangsa.
Pameran ini juga menjadi sarana yang strategis untuk mempererat hubungan antarinstansi budaya lintas daerah serta memperkuat jaringan kerja sama pelestarian budaya di tingkat lokal dan nasional.
( Editor : Faisal & Wahyu Adi )



