Trenggalek, jurnalmataraman.com – Fenomena minimnya jumlah siswa baru di sejumlah sekolah negeri di Kabupaten Trenggalek mendapat sorotan tajam dari legislatif. Tercatat ada ratusan lembaga pendidikan yang menerima kurang dari 10 murid baru pada tahun ajaran ini. Kondisi tersebut memicu wacana penggabungan atau merger sekolah sekaligus penataan ulang tenaga pendidik.fakta mengejutkan ini terungkap dari hasil pembahasan antara Komisi IV DPRD Trenggalek bersama Dinas Pendidikan setempat pada 11 Agustus 2026. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 158 lembaga pendidikan negeri mengalami krisis peminat dengan jumlah siswa baru di bawah 10 anak.
Rinciannya cukup memprihatinkan. Dari ratusan lembaga itu, 63 di antaranya hanya mampu menjaring 1 hingga 5 siswa. Bahkan, terdapat enam sekolah yang hanya menerima 1 sampai 2 siswa, serta satu sekolah yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru alias kosong melompong.ketua Komisi IV DPRD Trenggalek Sukarodin menyatakan, realitas di lapangan ini menuntut penanganan yang cepat dan strategis. Penggabungan sekolah dinilai sebagai jalan keluar yang paling logis dan efisien.”kondisi sekolah yang sangat minim siswa ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kami sedang mengkaji secara serius opsi merger atau penggabungan untuk sekolah-sekolah yang secara aturan sudah memenuhi persyaratan,” ujar Sukarodin.
Selain menyoroti krisis bangku kosong, dewan juga mencermati masalah kekurangan guru di sejumlah wilayah. Menurut Sukarodin, penataan atau redistribusi tenaga kependidikan yang ada saat ini bisa menjadi solusi jitu untuk menambal celah tersebut.sebagai gambaran, saat ini terdapat 86 tenaga kependidikan di Trenggalek yang telah mengantongi sertifikasi sebagai pendidik. Tidak hanya itu, ada 63 guru taman kanak-kanak (TK) negeri yang dinilai mumpuni dan bisa dioptimalkan untuk mengajar di kelas-kelas bawah pada tingkat sekolah dasar (SD).meski demikian, wacana perombakan ini belum menjadi keputusan final. Langkah-langkah taktis tersebut masih akan digodok lebih lanjut bersama pihak eksekutif. Fokus utama ke depan adalah mempertimbangkan psikologis serta kesiapan orang tua murid, berikut kelengkapan syarat administrasi lainnya sebelum merger benar-benar dieksekusi.
(Editor : Alif / Afif)





