Kediri, jurnalmataraman.com – Sebanyak 30 mahasiswa asal Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia mengikuti program pengenalan budaya di Kampung Batik Dermo, Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Minggu siang. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa tidak hanya mempelajari proses pembuatan batik, tetapi juga belajar membuat wayang kulit secara langsung bersama perajin lokal.
Program ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional antara Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri dan Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) batik di Kampung Batik Dermo agar mampu melakukan rebranding produk, inovasi desain serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sehingga Batik Dermo dapat menembus pasar regional ASEAN.

Dekan Fakultas Teknik UNP Kediri, Dr. Sulistiono, M.Si., menilai Batik Dermo memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih memerlukan penguatan dari sisi identitas merek dan daya saing produk. Menurutnya, kolaborasi internasional ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal.
“Batik Dermo mempunyai nilai budaya dan potensi ekonomi yang kuat. Melalui kolaborasi ini, kami mendorong penguatan branding, inovasi desain, serta pemanfaatan teknologi agar produk batik lokal lebih kompetitif,” ujar Sulistiono.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pertukaran budaya antara mahasiswa Indonesia dan Malaysia, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada mahasiswa asing.
Salah satu mahasiswa UTP Malaysia, Ahmad Idzhad Hamzie Bin Fazal Anuar, mengaku pengalaman membatik secara langsung bersama perajin menjadi momen yang berkesan selama mengikuti program di Kediri.
“Ini pengalaman yang sangat menarik bagi saya. Kami bisa belajar langsung proses membatik dan mengenal budaya lokal yang sangat kaya,” tuturnya.
Selain kegiatan membatik, para mahasiswa juga diperkenalkan pada seni pembuatan wayang kulit sebagai bagian dari warisan budaya Jawa. Ahmad mengaku antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia.
Sebanyak 30 mahasiswa dan empat staf pendamping dari UTP Malaysia dijadwalkan berada di Kediri selama lima hari. Selama kunjungan tersebut, mereka akan mengikuti berbagai rangkaian pengenalan budaya, termasuk di Kampung Batik Dermo serta pengenalan Kampung Gurami di Prambon, Kabupaten Nganjuk.
Kolaborasi internasional ini diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik lintas negara sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis budaya lokal agar semakin dikenal di tingkat regional maupun internasional.
( Editor : Daniel & Wahyu Adi )



