Nganjuk, jurnalmataraman.com – Tradisi Mitoni atau yang lebih dikenal dengan Tingkeban masih terus dilestarikan oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Upacara adat tersebut menjadi wujud rasa syukur atas kehamilan yang telah memasuki usia tujuh bulan sekaligus doa agar proses persalinan berjalan lancar dan selamat.
Salah satu keluarga yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah pasangan suami istri Sefia Maharni dan Marjuki Cahyono, warga Dusun Kepuhtelu, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk. Prosesi adat Mitoni digelar di kediaman mereka dengan melibatkan keluarga besar dan warga sekitar.

Upacara diawali dengan pasangan mengenakan kain jarik dan dimandikan menggunakan air bunga tujuh rupa yang disiramkan sebanyak tiga kali. Ritual ini menjadi simbol pensucian diri serta harapan agar sang ibu dan janin senantiasa diberi keselamatan.
Setelah itu, kedua pasangan didandani secara asal-asalan yang mengundang tawa warga. Prosesi dilanjutkan dengan ritual pecah telur sebagai simbol kelahiran anak yang selamat, dan pecah kelapa untuk menandakan jenis kelamin bayi yang akan lahir.
Calon ayah diberikan sabit, sementara calon ibu membawa sapu. Keduanya kemudian membersihkan halaman rumah bersama sebagai lambang kekompakan pasangan suami istri dalam menghadapi kehidupan rumah tangga.
Uniknya, dalam prosesi tersebut terdapat tradisi memukul pasangan menggunakan batang daun oleh sesepuh desa. Simbol tersebut mengandung makna agar pasangan dapat tanggap dan cepat dalam menyelesaikan persoalan hidup.

“Tradisi ini sudah turun-temurun. Tujuannya untuk memohon keselamatan bagi ibu dan calon bayi, agar proses kelahirannya tidak mengalami hambatan,” ujar Lasiyem, salah satu sesepuh desa.
Sebagai penutup, warga melaksanakan doa bersama dan berbagi uang logam yang diperebutkan oleh anak-anak serta masyarakat sekitar sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tradisi Mitoni menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang sarat makna dan nilai-nilai kebersamaan, yang hingga kini masih dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat Nganjuk.
(Editor : Wahyu Adi)



