KEDIRI, jurnalmataraman.com – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana secara resmi mengukuhkan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kediri yang akan bertugas pada Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Pendopo Panjalu Jayati, Kamis (13/8) siang.
Dalam sambutannya, bupati yang akrab disapa Mas Dhito tersebut memberikan pesan mendalam kepada para pelajar terpilih. Ia menegaskan bahwa seluruh anggota Paskibraka merupakan pemuda-pemudi pilihan yang patut berbangga sekaligus menjadi role model di lingkungan sekolah masing-masing.
“Paskibraka ini adalah orang-orang yang terpilih untuk melaksanakan upacara 17 Agustus. Pesan saya hanya satu, sebagai Paskibraka pastikan punya kebanggaan dan menjadi contoh yang baik di sekolahnya,” tegas Mas Dhito usai acara pengukuhan.
Soroti Aksi Perundungan hingga Pernikahan Dini
Tak sekadar menjalankan tugas mengibarkan Sang Saka Merah Putih, Mas Dhito juga menitipkan misi sosial kepada para anggota Paskibraka. Ia meminta mereka aktif menjauhi serta mencegah aksi perundungan (bullying), sekaligus menjadi pembawa dampak positif dalam menekan angka pernikahan dini di Kabupaten Kediri.
Mas Dhito mengungkapkan keprihatinannya atas fenomena pernikahan usia anak yang kerap dipicu oleh kehamilan di luar nikah.
“Saya berusaha untuk menekan angka pernikahan dini. Saya sedih betul kalau mendengar angka ini bertambah, apalagi usianya masih sekolah. Penyebabnya rata-rata hamil di luar nikah. Ini tidak bisa hanya pemerintah kabupaten saja, tapi butuh peran serta orang tua,” jelasnya.
Selain itu, ia berpesan agar nilai-nilai Pancasila terus dipegang teguh dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui ikatan alumni Paskibraka.
Kisah Haru Rasya: Tegar Jalani Pengukuhan Tanpa Orang Tua
Di balik gagahnya deretan anggota Paskibraka yang siap bertugas, terselip kisah haru dan menginspirasi dari salah satu anggotanya, Rasya Zakina Akbar.
Siswa asal SMK Pembangunan Kepung tersebut harus menjalani momen sakral pengukuhan tanpa didampingi kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Meski berdiri tanpa kehadiran fisik ayah dan ibu di arena pengukuhan, Rasya tak sedikit pun berkecil hati.
Dukungan penuh (full support) dari rekan sesama Paskibraka, senior, hingga tim pelatih menjadi pendorong semangat utama bagi Rasya. Dengan keteguhan hati, ia menyatakan siap dan bangga menjalankan amanah besar mengibarkan Sang Saka Merah Putih di hari kemerdekaan. (rey)




