Trenggalek, jurnalmataraman.com – Fenomena merosotnya jumlah peserta didik baru yang melanda sejumlah Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kabupaten Trenggalek pada tahun ajaran ini memantik perhatian serius. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Trenggalek menilai kondisi ini memerlukan intervensi bersama dan mengusulkan langkah penggabungan (merger) sekolah sebagai salah satu solusi strategis.
Ketua PGRI Kabupaten Trenggalek, Catur Winarno mengungkapkan, kesulitan SD Negeri dalam memenuhi kuota siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penurunan angka kelahiran di daerah serta semakin banyaknya pilihan satuan pendidikan swasta maupun madrasah menjadi penyebab utama bergesernya minat masyarakat.
Menghadapi tantangan tersebut, PGRI mendesak jajaran SD Negeri untuk segera berbenah. Catur menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh serta pengembangan program-program pendidikan yang lebih adaptif terhadap keinginan wali murid saat ini. Salah satu terobosan yang diusulkan adalah penguatan inovasi layanan, khususnya di bidang pendidikan keagamaan. Hal tersebut dinilai mampu menjadi daya tarik dan nilai tambah bagi SD Negeri, tanpa harus merombak karakter maupun identitas asli sekolah negeri yang inklusif.
Selain evaluasi internal, PGRI juga menyoroti urgensi tata kelola makro pendidikan di Trenggalek. Catur menilai koordinasi lintas instansi antara Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan Kementerian Sosial perlu diperkuat. Sinergi ketiga lembaga ini dianggap krusial untuk menata ekosistem pendidikan yang sehat, sehingga tidak terjadi persaingan terbuka yang berujung pada matinya sekolah-sekolah negeri.
Lebih lanjut, PGRI secara resmi mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk mulai mengeksekusi opsi merger atau penggabungan sekolah. Kebijakan ini disarankan bagi SD Negeri yang jumlah muridnya sudah sangat minim dan berlokasi saling berdekatan. “Langkah penggabungan ini bukan sekadar untuk menjaga efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Secara teknis, merger juga akan sangat membantu pemerintah dalam mendistribusikan dan memeratakan tenaga pendidik ke sekolah-sekolah lain yang masih kekurangan guru,” tegas Catur Winarno.
( Editor : Arno / Juwita )




