Tulungagung, jurnalmataraman.com – Ribuan warga bersama umat Tri Dharma memadati Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Rabu (10/9) untuk mengikuti tradisi tahunan Sembahyang Rebutan. Tradisi ini merupakan bagian dari perayaan Festival Bulan Hantu dalam penanggalan Imlek dan menjadi momen berbagi dengan masyarakat melalui pembagian ribuan paket sembako.
Pelaksanaan Sembahyang Rebutan digelar setiap bulan tujuh penanggalan Imlek. Dalam keyakinan umat Tri Dharma, bulan ini dipercaya sebagai masa ketika arwah leluhur kembali ke bumi untuk berkumpul dengan keluarga. Ritual ini juga diperuntukkan bagi arwah yang tidak memiliki keluarga agar tetap mendapatkan doa dan jamuan.
Rangkaian acara diawali dengan sembahyang memohon restu kepada dewa pujaan dan Tuhan Yang Maha Esa. Setelah itu umat melakukan doa di luar kelenteng sebagai persembahan untuk arwah dengan harapan kehidupan manusia tetap tenteram dan damai. Panitia juga menyiapkan berbagai sajian simbolis sebagai jamuan bagi arwah sekaligus bentuk penghormatan agar roh-roh tidak mengganggu manusia dan justru memberikan keselamatan serta ketentraman.

Puncak acara ditandai dengan pembagian sebanyak 3.000 paket sembako kepada warga yang hadir. Ketua pelaksana Sembahyang Rebutan, Wibitono menegaskan meski disebut “rebutan” pembagian dilakukan secara tertib dan teratur. “Isi paket sembako terdiri dari beras, minyak, gula, kopi dan mi instan,” ujarnya.
Tradisi ini tak hanya menjadi wujud pengabdian religius umat Tri Dharma tetapi juga sarana mempererat kebersamaan sekaligus berbagi kepada masyarakat luas.
(Editor : Pandu & Wahyu Adi)



