Probolinggo, jurnalmataraman.com – Tingginya angka kecelakaan yang menimpa pengendara sepeda motor matik di jalur menuju Gunung Bromo wilayah Probolinggo mendorong Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Probolinggo untuk mengeluarkan imbauan tegas. Masyarakat diminta tidak menggunakan kendaraan matik saat menuju kawasan wisata pegunungan tersebut karena dinilai berisiko tinggi.
Data dari Satlantas menunjukkan, sejak Januari hingga awal Juni 2025, telah terjadi sembilan kecelakaan yang melibatkan sepeda motor matik. Dari total kejadian tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara enam lainnya mengalami luka-luka. Mayoritas insiden disebabkan oleh rem blong saat kendaraan menuruni jalur curam.
“Kami mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak menggunakan motor matik saat menuju Bromo. Medan di jalur ini sangat ekstrem, terutama bagi kendaraan yang tidak dirancang untuk menempuh tanjakan dan turunan panjang seperti sepeda motor matik,” ujar AKP Safiq Jundhira, Kasatlantas Polres Probolinggo.
Jalur Bromo yang melalui Probolinggo tepatnya dari Desa Sapikerep, Wonokerto hingga Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, terbentang sepanjang kurang lebih 17 kilometer. Meski secara umum jalan tergolong mulus dan lebar, kontur tanjakan dan turunan curam dengan kemiringan antara 20 hingga 40 derajat menjadi tantangan tersendiri.
Sejumlah papan peringatan telah dipasang di titik-titik rawan. Imbauan yang tertulis mencakup peringatan terhadap tikungan tajam, potensi longsor, serta anjuran untuk menggunakan gigi rendah saat melintasi tanjakan. Meski begitu, masih banyak pengendara yang abai terhadap peringatan tersebut.
Menurut laporan di lapangan, sebagian besar kecelakaan terjadi saat kendaraan menuruni jalur dari arah Bromo. Sepeda motor matik, yang umumnya memiliki sistem transmisi otomatis tanpa gigi rendah, kerap kesulitan mengendalikan kecepatan di turunan panjang dan terjal.
Pihak kepolisian mengimbau wisatawan untuk menggunakan kendaraan roda empat atau motor manual yang lebih tangguh dalam menghadapi medan pegunungan. Selain itu, penting bagi pengunjung untuk memastikan kondisi rem dan kendaraan secara menyeluruh sebelum melakukan perjalanan ke Bromo.
“Kami tidak melarang kunjungan ke Bromo, tetapi keselamatan harus diutamakan. Silakan nikmati keindahan alam Bromo, tapi gunakan kendaraan yang tepat,” tambah AKP Safiq.
Dengan meningkatnya minat wisata ke Gunung Bromo, keselamatan pengunjung menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah, kepolisian, serta masyarakat diharapkan dapat saling mendukung dengan mengedepankan kesadaran dan kepatuhan terhadap rambu-rambu keselamatan.
(Rep : Farid Fahlevi / Editor : Trias M.A)



