Trenggalek, jurnalmataraman.com – Iklim investasi di Kabupaten Trenggalek sepanjang tahun 2025 bergerak dalam tekanan, namun tetap mampu bertahan di jalur positif. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Trenggalek mencatat realisasi investasi mencapai Rp. 582 miliar.
Capaian tersebut hanya terpaut tipis dari target yang telah ditetapkan, sekaligus menunjukkan konsistensi Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi yang cukup menantang.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, realisasi investasi tahun 2025 mengalami peningkatan meski sangat tipis. Pada tahun 2024, realisasi investasi tercatat sebesar Rp. 581 miliar. Pemerintah daerah menilai kondisi ini tetap menggembirakan mengingat tekanan ekonomi nasional maupun global sepanjang tahun lalu.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Trenggalek, Edi Santoso, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 realisasi investasi bergerak ketat dan hampir selalu berhimpitan dengan target. Namun hingga akhir tahun, target tersebut akhirnya dapat tercapai meskipun dengan selisih yang sangat tipis.
“Realisasi investasi sepanjang tahun lalu memang cukup ketat, tetapi pada akhirnya target dapat kami capai,” ujar Edi.
Dari sisi sektor penopang investasi, struktur kontribusi relatif tidak mengalami banyak perubahan. Sektor perdagangan masih menjadi penyumbang terbesar, disusul sektor perindustrian, khususnya industri pengolahan. Kondisi ini mencerminkan karakter ekonomi Trenggalek yang masih didominasi aktivitas perdagangan serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menariknya, pada tahun 2025 sektor pariwisata melonjak ke posisi tiga besar penyumbang investasi. Peningkatan tersebut dipengaruhi masuknya sejumlah kegiatan pendukung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam program Makan Bergizi Gratis, yang secara klasifikasi tercatat dalam sektor pariwisata.
Di bawah sektor pariwisata, sektor pertanian menempati peringkat keempat. Pertumbuhannya dinilai cukup signifikan, terutama didorong oleh pengembangan bibit unggul serta meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam pertanian modern, seperti komoditas jagung dan melon. Sementara itu, posisi kelima ditempati sektor pekerjaan umum.

Edi Santoso menegaskan dominasi sektor perdagangan tidak serta-merta menunjukkan laju pertumbuhan tercepat, melainkan besarnya struktur ekonomi daerah yang ditopang aktivitas jual beli dan UMKM.
“Sektor dengan akselerasi pertumbuhan tercepat justru pariwisata, seiring masuknya berbagai program nasional yang berdampak langsung terhadap investasi daerah,” jelasnya.
Meski demikian, Edi menegaskan sektor perdagangan masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Trenggalek dan akan terus diperkuat melalui berbagai kebijakan pendukung investasi daerah.
(Editor : Wahyu Adi)



